lifeworksgestaltlogobase

About Me

Foto saya

I teach and practice Gestalt therapy, Career decision coaching, and Family Constellations work. As well as Australia, I teach workshops and training in China, Japan, Korea, the USA & Mexico. I am author of Understanding The Woman In Your Life, a book of advice for men about relationships with women. In my work as director of Lifeworks I provide therapy,  training and supervision. I am a Phd candidate, studying the interpersonal dynamics of power, and am currently director of an MA in Spiritual Psychology for Ryokan College, an accredited online institution based in LA.

Rabu, 24 Desember 2014

Case #39 - Seorang penjual bunga yang kuat

Ketika saya meminta seorang sukarelawan, Fran mengangkat tangan. Saya sudah memperhatikan dia sebelumnya, karena dia adalah orang yang pertama kali bertanya.
Dari pada bertanya padanya, saya memulai dengan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan yang sudah saya bangun bersama dengannya - hal-hal yang saya ketahui, dan kemudian respon saya terhadap aspek-aspek tersebut berdasarkan pengalaman saya tentang dirinya.
Dia bilang dia sering menjadi orang pertama yang mengajukan diri, dan saya bilang kalau saya juga begitu. Hal ini segera menciptakan suatu dasar yang menghubungkan kami. Saya bertanya pekerjaan apa yang ditekuninya - dia bilang penjual bunga, tapi dia bilang dia ingin membuka toko bunga miliknya sendiri, dan dia sedang berusaha mewujudkannya. Saya bisa melihat bahwa dia adalah seorang wanita muda yang penuh percaya diri, dan saya bilang padanya ketika saya mendengar rencananya itu, saya percaya dia bisa.
Sekali lagi, ini meletakkan sebuah dasar hubungan, dan menerima apa yang akan muncul nantinya, dalam hal proses.
Saya bertanya tentang bunga yang paling disukainya. Dia bilang bunga matahari. Saya mengaitkan bagaimana saya menyukai bunga tersebut, dan apa yang saya suka dari bunga tersebut. Dia kemudian bilang kalau dia menyukai banyak hal dari bunga tersebut - bunga tersebut terlihat ceria, bercahaya, kuat, tinggi...
Dia melakukan penekanan pada kata 'kuat', jadi saya bertanya bagaimana dia bisa merasa kalau dirinya itu kuat. Dia menjelaskan bahwa dia memang kuat, dan dia senang dengan hal itu, meskipun dia merasa bahwa ketika dia sedang marah dia bisa bersikap destruktif.
Jadi saya mengajaknya untuk melakukan 'gulat terapi', di mana kami berhadapan satu sama lain, dan saling mendorong dengan menggunakan tangan. Ini menyenangkan, dan membuatnya merasakan keinginannya untuk menyerang secara penuh dan aman, menikmati permainan dan mampu melakukan kontak secara penuh. Eksperimen ini juga menunjukkan padanya bahwa amarah dalam dirinya dan keinginannya untuk menyerang bisa saja menjadi hal positif, tidak selalu negatif. Hal ini menciptakan lebih banyak dasar lagi di antara kami.
Saya menunjukkan bahwa wanita yang kuat tidak selalu diapresiasi oleh lingkungan sosial, penamaan sejumlah faktor kontekstual yang potensial adalah untuk melihat bagaimana hal itu dipandang olehnya. Kadang dia berkata kalau dia menganggap dirinya terlalu kuat, dan membuat orang lain kewalahan. Saya meminta contoh, dan dia mengatakan pernah berteriak keras pada seorang supir taksi. Saya bisa mengerti reaksinya, dan menunjukkan kalau mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Tapi, dia bilang dia merasa tidak senang ketika kehilangan kontrol.
Jadi saya bertanya tentang konteks dirinya, keluarganya, dan siapa orang yang kehilangan kontrol di dalam keluarganya. Dia bilang bahwa ayahnya sering menunjukkan emosi yang kuat ketika dia sedang beranjak dewasa. Tapi daripada takut pada hal tersebut, dia menjadi seperti dirinya yang sekarang...dan begitulah dia tidak suka jika dia kehilangan kontrol emosinya, di mana itu memang beralasan sama seperti kasus dengan supir taksi tadi.
Saya bisa mengerti hal tersebut, dan mengatakan bahwa sekarang dia sudah dewasa, mungkin dia bisa memilih apa saja sifat ayahnya yang ingin dicontoh olehnya, dan yang tidak ingin dicontoh olehnya. Jadi saya menaruh kursi di depannya untuk merepresentasikan ayahnya, dan memintanya untuk 'berbicara secara langsung dengan ayahnya' tentang hal ini, membantunya merangkai ucapan yang akan memperjelas apa yang dia hargai dan apa yang ingin dipertahankan, dan apa yang ingin dia hilangkan, sehingga ia tidak berakhir seperti ayahnya.
Dia merasa lega setelah melakukan ini semua, dan lebih merasa nyaman dengan keinginannya untuk menyerang sebagai sebuah kekuatan yang membuatnya bisa memilih, daripada sesuatu yang dirasa buruk olehnya, atau ditentang olehnya.
Seperti inilah bentuk 'penyatuan' yang kami maksud, dan terjadi tidak hanya secara kognitif dalam hal pengetahuan, tapi juga secara somatik, sehingga benar-benar bisa disebut sebagai terapi berbasis tubuh.








Senin, 15 Desember 2014

Case #38 - Seorang wanita yang gagal

Apa yang menjadi kekhawatiran Jemma adalah masalah kegagalan. Dia selalu gagal dalam melakukan segala hal - mengalami 5 kali kecelakaan kerja ketika bekerja di sebuah perusahaan, melakukan kesalahan perhitungan, yang terjadi terus-menerus, dan itu membuatnya merasa seperti seseorang yang gagal.
Ketika dia menceritakan masalah ini, saya agak berhati-hati. Dia menceritakan banyak cerita, yang terkait satu sama lain. Dia adalah orang yang cengeng, mudah roboh secara mental, dan saya sadar bahwa saya telah bersama dengannya selama satu jam namun tidak mendapatkan kemajuan yang berarti berkaitan dengan masalahnya. Dia juga menceritakan masalah yang dialaminya dengan orang tuanya, di mana ia merasa sangat marah pada mereka karena ditinggalkan, bahkan menaruh curiga pada ayahnya dan juga pada tujuan ayahnya. Dia sangat putus asa dan benar-benar butuh bantuan, dan itu membuat saya merasa tidak nyaman. Saya bereaksi dengan berniat menarik diri.
Jadi saya tahu bahwa saya harus masuk tepat pada inti masalah, termasuk membuat diri saya terlibat di dalamnya. Saya bilang - mari hadapi kegagalan itu; hal yang sedang terjadi saat ini adalah - anda telah gagal ketika bersama dengan saya - gaya yang anda tunjukkan mempengaruhi saya. Dia mengangguk - dia bisa menyadari bahwa saya akan bereaksi seperti itu, dan tentu saja hal seperti ini tidak asing baginya.
Langkah pertama ketika berhadapan dengan orang yang terjebak pada sebuah jalan yang membawa dampak buruk baginya adalah membawa sepenuhnya hal yang menjadi masalah baginya (dalam hal ini masalah kegagalan) ke dalam situasi saat ini, daripada hanya mendengarkan cerita tentang 'kegagalan' tersebut. Dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan melihat bagaimana hal tersebut memberikan dampak dalam hubungan.
Lalu saya memintanya untuk bermain sebuah permainan sederhana dengan saya. Saya ingin dia menerka bagaimana saya bereaksi terhadap kegagalannya ketika bersama dengan saya - setiap dua terkaan saya akan memberitahunya apakah dia berada di jalan yang benar atau tidak.
Dia menerka kalau saya akan berusaha untuk terus bersabar. Saya bilang tidak. Dia menerka bahwa saya merasa kasihan padanya. Saya bilang tidak.
Kemudian saya mengatakan - rasanya saya menyakitimu.
Lalu saya memintanya untuk menerka seperti apa rasa sakit tersebut bagi saya. Dia menerka kalau saya menahan rasa sakit itu. Saya bilang, anda sedikit benar. Dia  menerka lagi kalau saya merasakan rasa sakit tersebut di bagian perut dan dada.
Lalu saya mengatakan padanya bahwa faktanya saya justru marah padanya, dan bahwa saya merasakan hal tersebut di dada saya sebagai bentuk dorongan yang berasal dari dalam diri saya sendiri.
Saya memintanya untuk mengikuti eksperimen ini karena saya ingin membuatnya berhenti mengasihani diri sendiri dan terlepas dari bayang-bayang kegagalan yang terus dia pikirkan. Saya ingin dia melihat kegagalan itu sebagai sebuah pengalaman, dan bahwa dia bukanlah satu-satunya orang yang menderita. Jujur saja saya juga takut akan hal tersebut. Saya juga memintanya melakukan ini, karena dia selalu curiga pada ayahnya, dan akan lebih baik jika dia berlatih 'menerka' , dan mengambil kesempatan untuk berubah ke arah yang lebih baik, daripada mengisolasi diri.
Selanjutnya saya memintanya bertukar posisi. Saya menjadi dia, dan sebaliknya. Jadi, saya merasa sedih, kesal, gagal, dan dia adalah orang yang marah akan hal itu.
Dia mulai sadar setelah bertukar peran 'saya merasa seperti orang tua saya - yang mengajari saya, berteriak, mengkritik, merendahkan saya, dan memaksa saya melakukan sesuatu'.
Hal itu berguna karena sekali lagi, itu membuatnya bisa keluar dari identitas polaritas, dan membuatnya merasakan pengalaman yang lebih banyak tentang apa yang sedang terjadi.
Lalu saya memberinya sebuah metafora - misalnya dia yang merekrut saya untuk melakukan pekerjaan yaitu marah padanya, dan bahwa hal tersebut akan terjadi kurang dari semenit. Saya juga menunjukkan padanya bahwa pada tingkat tertentu saya setuju untuk bermain dengan sisi lain dari hal ini, dan di situlah bagian terburuk dari diri saya akan ikut serta.
Saya menjelaskan kalau ini adalah permainan yang dimainkan oleh dua orang. Dia bilang - sebenarnya, saat dia berperan sebagai orang yang marah pada saya tadi, dia jadi teringat pada tekanan yang sama yang datang dari kakek dan neneknya.
Jadi, seperti inilah dunianya berjalan.
Saya memberikan metafora lain : sebuah naskah, dan pemain yang siap sedia. Dia memproduksi ulang naskah tersebut di setiap bagian dari kehidupannya. Dia setuju. Ini akan menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, daripada jika kita hanya menganggap hal ini sebagai masalah pribadinya saja, dan mengarah pada sifat kompulsif dan tak terelakkan yang terus berulang yang ada pada dirinya, dan juga dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Lalu saya memintanya memilih permainan apa saja yang diketahuinya, asalkan dalam permainan itu terdapat karakter yang serupa dengan dirinya. Dia mendeskripsikan sebuah drama yang di dalamnya terdapat karakter yang bisa mempengaruhi seluruh proses yang sedang coba kami selesaikan.
Lalu saya meminta contoh lain darinya - misalnya dari cerita film atau teater, yang memiliki naskah berbeda. Di sini saya ingin melihat lebih luas ke sumber lain yang ada. Dia memilih cerita Harry Potter, dan ketika saya bertanya karakter mana yang ingin dia perankan, dia bilang Harry.
Jadi saya memintanya melihat saya dengan sudut pandang Harry. Ini karena cara yang dia lakukan pertama kali dalam menyusun naskah adalah dengan menggunakan matanya - dia melihatku dengan pandangan tertentu.
Dia mencoba eksperimen ini, dan seiring dengan terkuaknya sikap Harry Potter di dalam film -  kenyataan di mana karakter tersebut tidak bisa mati dan sebagainya, dia mulai merasakan sesuatu yang lebih kuat pada dirinya.
Dia merasa ada perubahan pada identitas dirinya, dan pada akhirnya, saya merasakan perbedaan dirinya sebelum dan setelah mengikuti eksperimen ini.
Untuk menyelesaikan masalah ini saya harus terus bersamanya, dan bersikap jujur. Saya bekerja dengan apa yang disebut hubungan, menggunakan berbagai eksperimen, dan yang terakhir kali saya gunakan adalah 'perubahan dasar'... di mana hal tersebut membutuhkan segala sesuatu yang telah terjadi sebelumnya.


Senin, 08 Desember 2014

Case #37 - Tombak yang menyakiti, dan tombak pelindung

Saya mengira Celia berumur sekitar 30 tahun, tapi ternyata dia berumur 51, dan memiliki beberapa anak. Hebatnya, meskipun dia memiliki kehidupan yang sulit, dia tetap terlihat tenang - dan itulah yang membuatnya terlihat muda. Hal-hal tersebut tidak perlu saya telusuri lebih lanjut, meskipun nanti itu akan menjadi hal yang perlu diperhatikan ke depannya. Kesan pertama selalu menjadi bagian yang penting, bahkan pada klien yang sudah familiar sekalipun agar bisa 'menemukan sudut pandang baru' untuk mengetahui kesenjangan atau mengetahui hal yang relevan dengan terapi.
Masalah yang dialaminya adalah dia takut menekuni profesi yang sudah dilatihnya selama 10 tahun terakhir. Dia ingin menjadi seorang pekerja sosial, dan sekarang anaknya telah meninggalkan rumah, ini adalah tujuan lain yang ingin dicapainya.
Daripada menggali rasa percaya dirinya atau mencari tahu rasa takutnya, saya lebih ingin mencari tahu situasi yang dialaminya - dalam hal ini dukungan yang diberikan lingkungannya untuk melakukan pekerjaan sosial. Dia mendapatkan dukungan dari sekelompok pekerja sosial, jadi itu bukanlah masalah sekarang.
Tapi, suaminya bilang kalau dia ingin bercerai jika Celia tetap meneruskan dan menekuni pekerjaan tersebut. Ini merupakan reaksi yang cukup kuat, tapi tidak sepenuhnya mengejutkan mengingat budaya patriarki (sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang memiliki otoritas tertinggi) berlaku dalam sesi ini.
Tapi, ketika saya bertanya lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa dia mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama puluhan tahun.
Itu agak aneh bagi saya bahwa selama 10 tahun belajar dan melakukan terapi yang berhubungan dengan keinginannya melakukan pekerjaan sosial, semua itu sama sekali tidak membuahkan hasil, atau bahkan orang yang mengajarnya entah kenapa tidak merasa bersalah.
Dalam terapi, sangat penting untuk fokus pada situasi, bukan hanya perasaan saja, terutama jika situasi tersebut tidak bersahabat. Hal ini perlu menjadi fokus dalam terapi.
Jadi saya hanya ingin fokus pada inti masalah - ketakutannya yang bisa dimaklumi. Dia bilang kekerasan yang dialaminya dalam rumah tangga  telah berhenti akhir-akhir ini.
Saya memberitahu perasaan saya ketika saya duduk bersama dengannya - bersikap terbuka padanya, merasa kalau kami berdua saling terhubung untuk membahas masalah secara serius,  merasa ingin mendukungnya, tapi saya juga bersikap sangat hati-hati dan ingin melanjutkan terapi ini dengan cara yang patut dihargai.
Saya menunjukkan kalau ketakutan yang dirasakannya hampir seperti 'seseorang yang merupakan bagian dari keluarga'. Dia setuju dengan hal itu. Saya memintanya memberikan identitas orang yang ditakutinya - dia mengatakan seseorang dengan baju hitam, mata besar, tersenyum dan memegang tombak. Dia mendeskripsikan orang tersebut dengan kata 'seram'.
Saya memintanya menjelaskan lebih detail - seperti apa baju yang dipakai orang itu. Saya ingin benar-benar memahami hubungan antara dirinya dan rasa takut yang dialaminya. Lalu saya mengajaknya berpartisipasi dalam sebuah eksperimen Gestalt. 'menjadi rasa takut tersebut' - untuk menunjukkan seperti apa rasa takut tersebut, dengan tombak dan mata besar yang dia maksud.
Dia melakukan apa yang saya minta ('menjadi rasa takut tersebut'). Terkadang melakukan eksperimen seperti ini bersama dengan klien bisa berdampak baik.
Lalu saya memintanya untuk duduk lagi - Saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu pada satu bagian saja. Mendeskripsikan dan menjadi rasa takut itu sendiri bisa berarti banyak hal.
Dia bilang kalau dia merasa bahwa saya telah memberikan banyak hal padanya selama proses ini, dan dia merasa segan untuk menerima lebih banyak lagi - seolah dia ingin membalas apa yang telah saya berikan. Dia menjelaskan bawah dia dididik untuk 'mengapresiasi' laki-laki, dan meskipun dia berusaha menolaknya karena dia adalah perempuan, hal itu tetap menjadi bagian dari kondisi hidupnya.
Jadi saya berangkat dengan situasi ini, dan kemudian berhenti untuk berpikir. Saya bilang, 'baiklah, apapun yang akan anda berikan, saya akan menerimanya'. Kami duduk bersama sambil terdiam, dan kemudian dia bilang kalau dia ingin berterima kasih atas apa yang telah saya lakukan sampai saat ini.
Setelah mengatakan hal tersebut, dia kembali merasa lega bersama saya, siap untuk melanjutkan proses ini. Sangat penting untuk mendengarkan secara jelas tentang apa yang dialami oleh klien, termasuk setiap momen yang dialaminya, dan turut merasakan momen-momen tersebut.
Saya bertanya padanya di mana rasa takut itu sekarang - dia bilang kalau itu berada di dalam dirinya. Dia bilang itu seperti tombak yang menusuk otaknya dan menyakitinya.
Saya mengubah cara untuk berhubungan secara langsung dengannya. Saya mengatakan padanya kalau saya merasa sangat sedih melihatnya merasakan sakit. Saya ingin 'menyelamatkannya', melindunginya, tapi saya tidak tahu caranya.
Dia sangat tersentuh, dan kami duduk bersama sambil terdiam sejenak. Ini adalah saat di mana terjadi pergeseran kunci permasalahan - seseorang yang peduli, yang bisa bersamanya, melindunginya, namun tidak terburu-buru untuk memperbaiki hal-hal yang terkait dengan masalah yang dihadapinya.
Ini adalah sebuah momen 'Aku-Anda' (I-Thou), di mana dua individu manusia terhubung secara penuh. Saya adalah ahli terapi dan dia adalah klien, tapi selain itu, kami berdua juga manusia, yang duduk berhadapan satu sama lain, dan mendalami rasa sakit yang dialaminya. Saya berusaha sebaik mungkin untuk menghilangkan rasa sakit tersebut - tidak hanya melakukan percobaan,menunjukkan sosok rasa takut tersebut, tapi faktanya, rasa takut yang dialami seseorang selama puluhan tahun sangat erat kaitannya dengan kekerasan.
Dalam hal ini,  kami berdua bersikap terbuka. Saya benar-benar merasa tersentuh, begitu juga dia. Kami berdua mengungkapkan hal ini.
Lalu saya bilang - baiklah saya juga punya tombak, ini adalah tombak untuk melindungi. Saya memintanya untuk 'melibatkan saya', bersama dengan tombak saya, untuk menghadapi sosok rasa takut yang ada di dalam hatinya.
Dia mampu melakukan hal ini dengan mudah, dan kemudian menangis. Dia merasa aman dan diperhatikan.
Ini disebut dengan 'menjadikan diri sebagai objek' - 'melibatkan saya', berarti dia memiliki sosok di dalam dirinya yang akan membantunya, karena pengalaman masa lalu terus-menerus menekannya, dan dia diharapkan bisa 'mengapresiasi' laki-laki di dalam hidupnya.
Meskipun tidak banyak hal yang terjadi di selama terapi, dampak yang diberikan terapi tersebut sangatlah besar. Pada bagian akhir saya bertanya di mana posisi rasa takutnya terkait dengan keinginannya untuk menekuni profesinya.  Dia bilang, dia tidak merasa terintimidasi lagi. Saya bertanya - meskipun anda harus bercerai dengan suami anda? dia bilang, ya.
Sekarang, ini hanyalah salah satu bagian dari pekerjaan yang perlu dilakukan dalam terapi berkaitan dengan hubungan, menghadapi masalah tersebut setelah kekerasan yang berlangsung cukup lama. Saya ingin tetap memperhatikan hal ini, karena bisa saja kekerasan kembali terjadi, dan sebagai seorang profesional, dan juga orang yang peduli, saya ingin memastikan bahwa hal buruk seperti itu tidak terjadi lagi.



Kamis, 27 November 2014

Case #36 - Wanita yang tidak merasakan apa-apa

Brenda mengatakan kalau dia tidak memiliki identitas diri yang jelas - dia mudah hilang kendali, dan terlalu ingin tahu tentang identitas orang lain.
Dia juga bilang kalau dia pemalu, tidak suka difoto atau menjadi perhatian banyak orang.
Semua hal tersebut adalah indikasi  perlunya melangkah ke depan dengan hati-hati, dan waspada terhadap isu memalukan yang potensial.
Saya membiarkannya tahu bahwa saya bisa saja tidak menyelidiki dirinya lebih jauh lagi dan itu tidak akan menjadi masalah bagi saya daripada merasa bahwa dia tidak punya masalah.
Saya menunjukkan bahwa kita berada di depan sekelompok orang, dan saya bertanya apa yang dia rasakan. Dia bilang kalau mereka melihat ke arahnya, tapi dia tidak merasa kalau dia sedang diperhatikan. Saya bertanya apakah itu karena orang-orang tersebut memiliki pengetahuan terbatas tentang dirinya, atau karena dia yang bersembunyi dari mereka. Dia bilang keduanya.
Hal ini membantu saya menciptakan kerangka dinamika hubungan. Jadi saya mengembalikan hal tersebut padanya dan saya - saya melihat ke arahnya, tapi dia juga bersembunyi dari saya. Dia bilang ya, dia memang selalu bersembunyi dari siapapun.
Ini tentu saja menghasilkan sebuah jalan buntu dalam hubungan - sebuah bagian yang sangat ingin dilihatnya, tapi kemudian bagian yang lainnya yang tidak membiarkannya melihat bagian tersebut. Ini adalah sebuah peringatan yang harus saya pertimbangkan dengan benar, atau saya akan mudah frustasi dan terjebak dalam dinamika ini.
Jadi daripada menyelidiki, saya memberitahu padanya hal-hal tentang dirinya yang sudah dia ungkapkan pada saya - bagian-bagian dari informasi pribadi yang dia bagi. Saya juga mengatakan apa yang saya lihat dari dirinya - misalnya warna baju yang dia pakai.
Ini menciptakan sejumlah dasar hubungan di antara kami, tanpa perlu bertanya lebih lanjut padanya, di mana hal ini mengindikasikan bahwa saya mengerti dengan apa yang dia bagi pada saya dan apa yang dia sediakan. Dalam kasus tentang sifat pemalu sangat penting untuk membagi sesuatu yang dimiliki oleh seseorang, daripada menyelidiki orang lain terlalu dalam.
Namun, matanya berkaca-kaca, dan dia mengatakan kalau dia hanyut dalam keadaan ini. Ini menunjukkan bahwa kontak yang terjadi sudah terlalu berlebihan. Jadi saya bertanya sejauh apa dia hanyut.. dia bilang dia hanyut sangat jatuh ke masa lalu.
Ini menjadi indikasi akan sebuah pemisahan diri, dan bahwa yang menjadi hal paling utama di sini adalah keamanan.
Faktanya, saya mengusulkan dia bisa hanyut ke dalam suatu khayalan, dan saya bisa melakukan hal yang sama, dan saya bisa mengajak setiap orang yang ada dalam kelompok untuk ikut dengan saya, dan dengan begitu baik saya, dia dan juga orang-orang tersebut bisa duduk bersama, dalam khayalan yang sama.
Usulan ini menciptakan momentum pada dirinya, dan mendorongnya untuk terus maju. Dalam Gestalt ini disebut sebagai 'teori melawan asas perubahan' - di mana anda bersandar dengan apa yang telah ada.
Dia bilang 'Saya tidak merasakan apa-apa'.
Dengan kata lain, dia sudah benar-benar memisahkan diri. Dalam kondisi seperti ini, hanya apa beberapa jenis kontak yang bisa dilakukan.
Saya bertanya jenis dukungan seperti apa yang dia butuhkan, agar merasa lebih aman. Dia bilang - saya tidak ingin dilihat oleh orang lain.
Jadi saya mengatakan padanya kalau saya tidak akan melihatnya, dan pada waktu yang sama, saya membagi kesedihan saya - karena saya tidak akan melihatnya sama sekali, juga tidak mencoba melihatnya, sehingga dia tidak perlu bersembunyi lagi. Saya bilang padanya saya bisa merasakan kehangatan darinya, tapi tidak bisa menemukan jalan untuk menggapai dirinya.
Brenda melihat ke arah saya dan mengatakan 'saya tidak ingin menerima dukungan'.
Ini adalah sebuah wahyu yang memberikan saya petunjuk bagaimana meneruskan terapi ini.
Saya mengusulkan sebuah eksperimen - dia mengangkat kedua tangannya - tangan yang satu akan mendorong untuk menjauhkan orang lain, dan tangan yang lainnya akan menerima dukungan.
Kami melakukan ini dan dia bisa menerima dukungan dari saya - perlahan saya mendekatkan tangan saya ke tangannya yang akan menerima dukungan dan menggenggamnya.
Dia lalu mengatakan bahwa ada sebuah 'kekuatan' yang mengatakan padanya untuk tidak merasakan kekuatan tersebut. Saya meminta seseorang untuk berdiri di depan kami, sebagai representasi kekuatan tersebut. Dia tidak bisa mengidentifikasi siapa yang merepresentasikan kekuatan tersebut, di mana itu tidak menjadi masalah.
Jadi saya memintanya untuk membuat pernyataan pada kekuatan tersebut. Dia bilang 'saya akan mendengarkanmu ketika apa yang kau katakan itu berguna bagi saya, dan di sisi lain, saya akan membiarkan diri saya merasakan dukungan'.
Ini adalah sebuah pernyataan tentang perbedaan dan penyatuan.
Dia mampu membuat dirinya merasakan dan menerima dukungan, terlibat dan dipandang dalam hubungan, dan merasa kalau dia punya banyak pilihan.
Proses ini berjalan lambat, dan saya perlu menghargai batasan-batasan yang dimilikinya, tidak menyelidiki terlalu banyak informasi secara detail, bahkan termasuk informasi tentang apa yang dia rasakan.. namun juga mengharuskan saya untuk tidak menyerah. Biasanya orang-orang bereaksi pada seseorang yang menciptakan batas-batas pribadi - baik itu menarik diri, bertemu dalam sebuah jalan yang tidak saling terhubung, atau terlalu tertarik pada orang tersebut atau bahkan terlalu baik padanya. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah netralitas, dengan kehangatan yang cukup, tapi tidak terlalu banyak, ketertarikan yang cukup, tapi tidak terlalu banyak - ini disebut penyesuaian, dan itulah inti dari sebuah keterampilan dalam mengatasi suatu masalah berkaitan dengan hubungan.














Senin, 17 November 2014

Case #35 - Marah pada mantan suami

Marion punya masalah dengan orang tuanya yang berencana mempertemukan kembali dia dengan mantan suaminya. Ini jelas bukalah sebuah masalah yang substansif. Dia lebih mempermasalahkan rasa tidak nyaman dan masalah yang belum selesai antara dia dan mantan suaminya itu.
Sebelum masuk lebih dalam saya mengatakan - apa yang saya rasakan ketika saya melihat anda adalah bahwa mata anda menatap saya dengan tajam. Hal itu tentunya memberikan dampak yang cukup kuat pada saya. Kesamaan saya dengan mantan suami anda alah bahwa saya juga seorang pria, dan saya membayangkan bahwa sejumlah energi yang anda arahkan padanya mungkin akan ikut saya rasakan saat ini.
Saya bertanya seperti apa masalahnya, dan dia bilang, kemarahan.
Saya bertanya apa yang membuatnya marah. Dia mulai menceritakan sebuah cerita yang panjang pada saya berkaitan dengan keadaan...setelah beberapa saat saya bertanya lagi: baiklah, jadi apa yang sebenarnya membuat anda marah. Sekali lagi dia menceritakan sebuah cerita, dan kali ini lebih panjang.
Saya harus bertanya berkali-kali padanya sampai dia bisa mengatakan dengan jelas apa yang sebenarnya membuatnya marah yaitu bahwa dia merasa dikhianati oleh mantan suaminya, karena tidak memberikan dukungan finansial lagi pada bisnis yang sedang dia jalankan. Dia juga sangat marah karena mantan suaminya itu berbohong padanya dan juga pada orang tuanya yang tinggal bersama dengan mereka.
Saya bilang, ya, anda memang terlihat marah, itu terlihat dari mata anda. Apa yang anda rasakan saat ini?
Dia mulai membahas tentang evaluasi, penilaian dan pendapat daripada membahas perasaannya.
Dia bilang, 'saya memendam perasaan saya'
Jadi saya mengajaknya untuk membayangkan kalau saya adalah mantan suaminya itu, dan 'coba membagi perasaan yang ia pendam  itu dengan saya'. Dia mulai menjelaskan bahwa dia juga merasa patut disalahkan dalam situasi ini.
Jadi saya fokus padanya, dan memintanya untuk mengatakan sesuatu secara langsung dimulai dengan 'saya marah....'
Akhirnya, dia mulai mengekspresikan dirinya, secara langsung, dan mengatakan hal yang membuatnya marah.
Saya menyadari perasaannya, menyadari bagaimana saya bisa mengetahui dan mendengar amarah dalam dirinya... dan lalu bagaimana saya bisa melihat hal ini berubah menjadi tangisan - dan juga melihat seperti apa rasa sakit yang dialaminya.
Saya mendorongnya untuk berekspresi secara langsung, dan dia terus terjebak dalam amarah dan air mata. Ketika dia merasa ada yang mendengarkannya, dia mulai merasa lebih percaya diri untuk mengekspresikan dirinya secara langsung.
Pada akhirnya, dia merasa bebannya berkurang, dan berhasil melepaskan sebagian besar  rasa sakit dan amarah yang selama ini dia pendam sejak bercerai.
Untuk membuat proses ini berhasil, saya harus bekerja keras, fokus pada kesadaran dirinya, dan membawanya kembali pada pengalaman yang pernah ia rasakan di mana saya ikut berpartisipasi dalam eksperimen bersama dengannya, berhenti bercerita tentang sesuatu yang tidak begitu penting, di mana cerita tersebut merupakan cara yang dilakukannya untuk menghindar dari masalah yang sedang coba kami tangani. Saya memberikan wadah baginya untuk mencurahkan amarahnya, dan mendukung serta meyakinkan dirinya untuk mengekspresikan dirinya... ia memerlukan beberapa waktu sebelum merasa kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hal ini. Saya juga tidak ikut terbawa dengan usahanya untuk menghindar;
Sebagai timbal balik, saya memberikan penghargaan padanya, yaitu hal yang selama ini dia rindukan - dilihat dan didengar. Saya memang bukan mantan suaminya, tapi terdapat energi yang cukup kuat di antara kami berdua yang membuatnya merasa puas mengekspresikan perasaannya pada saya sebagai pengganti.
Yang membuat saya terhubung sejak awal adalah kenyataan bahwa saya yang juga merupakan seorang pria sudah cukup mampu membangkitkan kekuatan perasaan yang dimilikinya, dan bahwa sikap saya untuk menerimanya sudah cukup untuk membuatnya merasa kalau proses ini bukanlah semacam 'tindakan pura-pura'.
Yang paling penting di sini adalah dia tidak berteriak, menjerit, memukul bantal, atau bahkan bersuara nyaring selama proses terapi. Amarah bergerak di dalam hubungan dan melalui proses pengendalian, sehingga tidak memerlukan teknik terapi yang dramatis untuk mengatasinya.










Senin, 10 November 2014

Case #34 - Kontak dan sikap otentik

Nathan adalah seorang pria yang kekar, bijaksana, di mana keberadaannya sangat mudah disadari orang lain.
Dia mengalami masalah dengan sikap otentik (jujur). Dia merasa kalau dia tidak benar-benar jujur pada orang lain.
Dia hampir tidak pernah berselisih atau berdebat. Dia sangat koperatif baik di tempat kerja maupun di rumah.
Sejarah yang terjadi dalam keluarganya adalah perselisihan yang terjadi antara kakak laki-lakinya dan kakak perempuannya. Sementara dia memposisikan diri sebagai 'anak baik'. Ada dua hal yang kemungkinan memberikan dampak padanya sebagai seorang anak. Yang pertama adalah dia sangat marah pada kakak laki-lakinya, karena membuatnya hampir tertusuk oleh tiga buah objek di bagian mata. Hal lainnya adalah ketika dia memukul seorang anak laki-laki di sekolah, namun kemudian anak tersebut datang ke rumahnya dan mencakar wajahnya.
Sejak saat itu, dia mulai bersikap tertutup dan tidak mendekati orang lain lagi.
Saya terkejut ketika dia bilang kalau dia tidak begitu percaya diri. Saya terkejut karena dia terlihat seperti orang yang sangat kuat, dan itu terlihat dari ukuran tubuhnya.
Dia bilang kalau dia memiliki penilaian yang tajam pada orang lain, dan cenderung menjaga jarak dengan orang lain.
Jadi saya menawarkan suatu cara penyelesaian yang otentik, yang terlebih dahulu saya terapkan padanya.
Terdapat tiga komponen dalam hal ini - yaitu apa yang dia pikirkan, apa yang dia rasakan, dan apa yang dia inginkan dari orang lain.
Saya menerapkan ketiga komponen tersebut padanya, dan dia memahami apa yang saya maksud dengan baik dan mudah.
Saya mendefinisikan hal ini sebagai suatu titik temu yang otentik. Di mana hal tersebut akan mengarah pada suatu dialog yang otentik (terbuka dan apa adanya), kemudian akhirnya mengarah pada suatu hubungan yang otentik.
Lalu saya mengajaknya untuk menerapkan ketiga komponen tersebut pada tiga orang di dalam kelompok. Subjek yang pertama berjalan dengan lancar. Subjek yang kedua adalah seorang wanita yang memberikan respon yang cukup kompleks padanya. Dia bingung, jadi saya mengatakan padanya agar dia merespon dengan mengutarakan perasaannya. Saya memberinya sebuah cara yang khusus digunakan untuk merespon wanita berkaitan dengan kendala yang dialaminya. setelah beberapa lama, dia mengutarakan perasaannya dalam tiga cara untuk setiap satu pengutaraan pikiran yang dilakukannya.
Dia kemudian mempraktekkan hal ini dengan seseorang.
Saya bertanya apakah dia menemukan kesulitan; dia bilang kalau ini mudah.
Hal ini tentu saja menjadi indikasi bahwa yang dia butuhkan adalah sedikit pengarahan, panduan, dan dukungan untuk melatih hal tersebut.
Sebagai seorang pria, dia merasa senang mendapatkan arahan yang jelas. Sebagai seorang pria yang memendam 'kekuatan' di dalam dirinya, dia hanya memerlukan cara untuk memanfaatkan 'kekuatan' yang terpendam tersebut, tentunya dengan cara yang aman.
Dia merasa percaya diri untuk terus menerapkan hal ini.
Tentu saja, kami bisa saja bekerja dengan situasi keluarganya yang sebenarnya, atau dengan sifatnya yang berusaha menghindari konflik. Tapi ini adalah intervensi yang fokus pada masa sekarang dan masa depan, dan hal seperti ini bisa segera memberikan pengalaman akan suatu keberhasilan padanya. Hal ini penting jika mempertimbangkan masalah kepercayaan dirinya. Hal tersebut juga dapat membantunya dalam proses belajar yang tentunya akan memberikan pengalaman padanya, agar dia bisa terus mencari jati dirinya ketika menjalani hubungan yang otentik.
Hubungan (bisa juga disebut kontak) merupakan salah satu aspek utama dalam teori dan praktek Gestalt, dan hal tersebut merupakan tema utama dalam sesi kali ini.


Senin, 03 November 2014

Case #33 - Sebuah pengungkapan yang jelas dan otentik

Masalah yang dialami James adalah bahwa dia telah bekerja keras sepanjang minggu, bahkan sering bepergian ke kota lain lalu pulang ke rumah di hari Jumat. Berada di tempat yang jauh membuatnya ingin kembali ke tempat tinggalnya. Sangat penting baginya melihat anak dan istrinya berada di rumah agar ia bisa merasa nyaman.
Tapi, istrinya adalah seorang manajer HR tingkat atas, dan jarang berada di rumah. Ketika ditekan oleh James, dia akan menunjukkan bahwa karirnya sebagai manajer juga penting, dan bahwa yang sebenarnya menjadi masalah adalah apa yang dirasakan oleh James.
Dia sudah bersama dengan istrinya selama bertahun-tahun, dan mereka berdua sama-sama tertarik pada perkembangan kepribadian dan astrologi. Dia menggambarkan dirinya seperti bintang cancer, yang menunjukkan perasaannya.
Hubungan mereka sangat dalam dan penuh kasih sayang, tapi juga mengalami banyak konflik, di mana konflik tersebut yang sebenarnya ingin dikurangi oleh James agar hubungan mereka bisa menuju ke arah yang lebih baik.
Hal inilah yang membuat saya berada dalam konteks intervensi dalam hubungan.
Saya bertanya pada James tentang hal penting yang diinginkan oleh sang istri darinya. Dia bilang ketika istrinya sedang melakukan presentasi kerja dan menunjukkan hal tersebut padanya, sang istri ingin mendengar tanggapan dan mendapat apresiasi.
Saya bertanya hal yang kedua (yang juga diinginkan istrinya). Ketika membaca buku, istrinya ingin agar James juga membaca buku tersebut dan mendiskusikannya.
Saya bertanya apakah dia melakukan salah satu dari hal tersebut. Dia bilang kalau terkadang dia melakukannya sampai pada batas tertentu.. tapi tidak untuk membuat istrinya puas.
Jadi saya menyarankannya untuk menganggap serius kedua permintaan dari istrinya itu dan melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Setelah membiarkannya berpikir sejenak, saya menyarankan padanya agar ia memberikan penjelasan yang lengkap dan benar-benar jelas tentang alasan kenapa dia ingin istrinya itu berada di rumah pada hari Jumat malam.
Saya mendemonstrasikan apa yang saya maksud dengan memberikan contoh dari kehidupan saya:
--> Bertumbuh, ulang tahun selalu menjadi waktu yang istimewa di keluarga kami. Sedangkan untuk istri saya, hampir tidak pernah dirayakan; ada kalanya ulang tahun saudarinya dirayakan, tapi tidak dengan dia.
Hasilnya dia tidak begitu antusias dengan pesta ulang tahun; dia ingin ulang tahunnya itu menjadi privasi dan kalaupun harus dirayakan, dia ingin yang sederhana saja.
Saya sendiri mengharapkan sebuah hari yang istimewa, dengan banyak penanda yang mengingatkan kalau saya berulang tahun. Ada kalanya dia tidak melakukan apa yang saya harapkan, dan itu membuat hati saya sakit; di mana rasa sakit itu sangat sulit dimengerti olehnya.
-
Jadi hal rumit yang akan saya ungkapkan secara otentik akan seperti ini :
Saya tahu kalau kau tidak terlalu menyukai ulang tahun, dan bahwa kau juga tidak memiliki pengalaman yang istimewa berkaitan dengan hal tersebut semasa kecil. Saya juga tahu kalau kau telah berusaha keras untuk membuat ulang tahunku terasa menyenangkan, dan saya sangat berterima kasih untuk itu.
Saya juga tahu bahwa ada kalanya kau tidak merasa berada di posisi yang tepat untuk beberapa alasan. Saya juga mengerti bahwa bagimu semua ini berhubungan dengan perasaanmu yang sesungguhnya yang ingin kau bagi dengan orang lain, dan bahwa kau tidak mengharapkan lebih dari itu ketika berulang tahun. Tapi, saya dan kau berbeda. Terkadang saya juga tidak begitu menyukai ulang tahun. Karena saya punya kebiasaan menganggap ulang tahun itu sebagai sesuatu yang sangat istimewa, saya menaruh harapan pada hal tersebut dan berharap saya bisa menjadi ' yang paling utama' di hari yang istimewa tersebut. Dan bahwa meskipun kau sedang tidak enak hati, kau akan mengabaikan hal tersebut, hanya untuk hari itu, agar saya bisa merasakan kalau saya mendapat perlakuan yang istimewa. Itu sangat berarti bagiku, dan bahkan lebih dari itu, karena saya tahu bahwa hal seperti ini tidak selalu mudah bagimu. Saya merasa agak canggung ketika mengatakan hal ini padamu, tapi hal ini penting bagiku, dan bahwa ini merupakan hal yang sulit bagimu. Saya sangat menghargaimu karena mau mempertimbangkan permintaanku, dan kau bisa memikirkan hal tersebut jika menurutmu itu perlu, lalu kita bisa membicarakannya lain kali.
-
Dengan memberikan contoh seperti di atas pada James, dia akan mengerti bagaimana membangun sebuah pernyataan pribadi yang kompleks dan berasal dari dirinya sendiri untuk menyelesaikan masalah yang dialaminya.
Teori Gestalt adalah tentang memperdalam suatu hubungan dan membawa kejujuran ke dalam hubungan tersebut, lalu kemudian meningkatkan hubungan dan kedekatan. Ini merupakan salah satu cara penyelesaian yang akan kami berikan pada klien yang sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang komunikasi.














































Minggu, 26 Oktober 2014

Case #32 - Sumber otentik

Diana punya dua masalah : yang pertama adalah anaknya yang berumur 12 tahun malas belajar tapi Diana ingin anaknya itu belajar dengan baik.
Saya bertanya berapa skala nilai yang diberikan untuk anaknya itu, dan dia bilang 6 atau 7. Apa dia mengerjakan pekerjaan rumahnya? Ya. Tapi faktanya untuk masuk ke sebuah sekolah terkenal seorang anak harus memiliki nilai yang tinggi, dan itu yang membuat anak tertekan.
Pertama, saya merespon dengan berdasarkan pada apa yang saya yakini - yaitu keyakinan akan peran dominan orang tua dalam pertumbuhan anak, keyakinan akan pentingnya hidup yang seimbang untuk seorang anak, dan penilaian saya bahwa pencapaian akademik tidak selalu menjadi tujuan yang paling utama.
Ini penting, untuk memperjelas posisi saya, agar terbebas dari segala batasan, dan menemukan di bagian mana serta bagaimana kesediaan saya untuk memberikan dukungan bisa sesuai dengan posisinya.
Dia merasakan konflik, karena telah membaca banyak buku yang membahas tentang cara mendidik anak berkaitan dengan masalah ini, dan sudah mencoba memberikan ruang gerak pada anaknya, tapi dia malah merasa khawatir akan masa depan anaknya itu, dan tidak tahu bagaimana cara yang efektif untuk memotivasinya.
Jadi saya memberi usulan seperti ini : Dia sebaiknya duduk bersama dengan anaknya itu, kemudian memberitahu pada anaknya itu hal-hal apa saja yang penting bagi perkembangan sang anak.
Lalu dia (sang ibu) akan memberikan gambaran tentang apa yang sedang dihadapi oleh anaknya itu - sebuah lingkungan masyarakat dan sistem sekolah yang sangat kompetitif, di mana seseorang membutuhkan sejumlah nilai/kemampuan tertentu untuk memasuki suatu lembaga tertentu. Sang ibu akan memetakan tiap-tiap lembaga, apa yang dibutuhkan untuk memasuki masing-masing dari lembaga tersebut, serta kelebihan dan kekurangan dari lembaga-lembaga tersebut.
Dalam hal ini, dia (sang ibu) bisa bersikap apa adanya, sementara di sisi lain ia juga memberikan dukungan pada anaknya untuk menemukan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anaknya itu. Keinginan dan hasrat untuk mendukung anaknya kemudian akan mengarah pada kondisi di mana ia nantinya akan membantu anaknya dalam menentukan pilihan, daripada menentukan pilihan untuk anaknya.
Masalah kedua yang dialaminya adalah tentang hubungannya dengan sang suami. Ketika pulang, suaminya hanya minum bir, membaca koran, menulis isi blog miliknya, dan justru mengabaikan dirinya dan juga anak mereka.
Jelas sekali, dia tidak senang dengan situasi ini, tapi sayangnya dia masih belum bisa menemukan jalan keluar untuk masalah tersebut.
Dalam beberapa hal, suaminya itu terkadang memberikan kontribusi untuk kehidupan keluarga, misalnya merencanakan acara keluarga, menghabiskan waktu bersama, dan sering memasak makanan.
Dia tidak pernah menjadi seorang ahli komunikasi, jadi hal seperti ini bukanlah sesuatu yang baru.
Jelas sekali menurut saya, bahwa mengeluh dan menuntut sesuatu dari suaminya, atau bahkan jika dia berusaha meyakinkan saya bahwa dia berkomunikasi secara terbuka dengan sang suami, hal seperti itu tidak akan banyak membantu menyelesaikan masalah.
Saya bertanya tentang blog milik suaminya. Dia bilang kalau blog itu penuh dengan artikel, isinya lucu dan sang suami memasukkan sejumlah gambar serta menaruh komentar menarik untuk gambar tersebut. Dia berharap bisa berbicara dengan suaminya seperti itu.
Arah dari masalah ini menjadi jelas bagi saya. Dia tidak ingin mengubah suaminya, tapi dia ingin bisa bergabung dengan suaminya. Saya bertanya apakah dia punya ipad. Dia bilang kalau dia menyembunyikannya..
Saya menyuruhnya untuk segera memberikan ipad tersebut pada suaminya, dan membeli yang baru untuk dirinya sendiri. Dia kemudian bisa berkomunikasi secara tertulis dengan suaminya menggunakan ipad tersebut. Dia bisa memberikan respon pada blog milik suaminya, mengirim catatan, dan juga surat. Sementara suaminya duduk sambil membaca koran, dia bisa mengirim komentar pada suaminya itu melalui blog. Dia bisa menulis surat, mencetak surat tersebut, dan mengirimkannya pada sang suami, atau menaruhnya di bawa bantal sang suami.
Dalam hal ini, saya hanya memanfaatkan 'sumber' yang tersedia. Hal ini tidak bekerja pada dinamika intrapsikis yang ada dalam dirinya, dan saya menolak gagasan yang menyatakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, karena suaminya tidak memperhatikan dirinya. Sebaliknya, saya mencari di mana 'sumber' tersebut berasal, dan bagaimana dia melakukan kontak dengan suaminya dengan cara yang berbeda dari yang selama ini dilakukannya dalam hubungan.






Kamis, 23 Oktober 2014

Case #31 - Berhubungan seks agar bisa lebih dekat

Louise mengatakan kalau dia menginginkan hubungan yang lebih bergairah.
Suaminya berselingkuh 5 tahun yang lalu. Perselingkuhan itu berlangsung hampir setahun. Suaminya kemudian mengakui perbuatan tersebut dengan berlutut di depannya dan meminta maaf untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Meskipun perlahan keadaan semakin membaik, masih ada beberapa masalah yang terjadi.
Saat pertama kali suaminya mengatakan kalau dia berselingkuh, Louise menunjukkan respon yang masuk akal dengan bertanya pada suaminya apakah pernikahan mereka masih ingin berlanjut atau tidak. Louise menanggapi situasi tersebut dengan kepala dingin dan itu merupakan sebuah sikap yang baik dalam kaitannya dengan masalah kelangsungan pernikahan.
Tapi, beberapa waktu kemudian dia mulai merasa sangat sedih.
Bahkan, beberapa waktu belakangan ini dia juga merasa marah.
Tapi ini bukanlah suatu masalah yang harus dibesar-besarkan. Jika Louise benar-benar marah, suaminya berpikir untuk meninggalkan istrinya itu dan lari dari tanggung jawab. Hal ini membuat Louise takut jika suatu saat suaminya akan melakukan hal tersebut jika dia mengatakan apa yang dirasakannya saat ini.
Perasaan sedih dan marah menguasai dirinya. Meskipun terjadi sejumlah hal baik dalam hubungan mereka, sekarang Louise agak lebih tertutup pada suaminya, termasuk dalam hal yang berkaitan dengan seksualitas. Saya bertanya berapa kali mereka berhubungan intim - dia mengatakan 4 kali sebulan.
Saya bertanya berapa kali mereka saling bercakap-cakap - dia mengatakan rata-rata satu jam per hari.
Saya memintanya untuk menilai tingkat kecerdasan emosional pada dirinya. Dia memberi nilai 3. Dengan begitu sudah jelas bahwa dia tidak ingin suaminya mendengar keinginannya (hal yang diinginkan Louise dari suaminya). Membantunya menunjukkan perasaannya tidak akan banyak membantu; hal itu mungkin bisa menyingkirkan sebagian emosinya, tapi tidak akan bisa meningkatkan kedekatannya dengan sang suami. Dengan tidak bercerita pada suaminya tentang apa yang dialami dan dirasakannya, hubungan mereka yang seperti sekarang ini tidak akan mengalami kemajuan ke arah yang lebih baik.
Teori Gestalt tidak bekerja untuk mengarahkan suatu masalah pada 'pengampunan', meskipun menekankan pada kondisi 'apa adanya'. Dan dalam kasus ini, terdapat sejumlah pilihan yang tidak disadari olehnya.
Louise adalah seorang guru, dan mengatakan kalau dia mengubah cara mengajarnya beberapa tahun terakhir untuk menunjukkan pada murid-muridnya tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dia melihat terjadi perubahan yang signifikan dan perlahan tapi pasti terjadi di dalam kelas. Bersamaan dengan hal tersebut, dia juga mulai mencari jati dirinya.
Jadi saya tahu bahwa dia memiliki sesuatu di dalam dirinya, yang membuatnya kepribadiannya tumbuh.
Tapi hal ini tidak bisa langsung diterapkan ke dalam hubungan.
Saya fokus untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam hubungannya dengan sang suami, daripada hanya melakukan komunikasi intrapsikis dengan Louise, atau bahkan komunikasi interpersonal dengan diri saya sendiri.
Jadi saya mengajukan beberapa hal yang bisa dilakukannya nanti.
Hal itu termasuk berhubungan intim lebih sering untuk meningkatkan kedekatannya dengan sang suami.
Saya menyarankan agar dia memberitahu pada suaminya kalau dia ingin lebih sering berhubungan intim, dan lebih dekat dengan sang suami.
Jadi untuk mencapai hal tersebut, mereka perlu menghabiskan waktu bersama selama 1/2 jam setiap hari, yang mana itu akan membuat hubungan mereka semakin intim. Saya juga menyarankan beberapa pilihan - mencoba berbicara secara serius satu sama lain sambil membahas hal-hal kecil, membaca buku bersama dan mendiskusikan buku tersebut; melakukan sejumlah kegiatan bersama seperti mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh masing-masing dari mereka, atau meluapkan emosi; menciptakan ruang untuk saling mendengarkan keluh kesah; atau hanya sekedar melakukan sesuatu bersama yang akan membuat mereka semakin dekat.
Saya setuju dengan Louise yang menganggap kalau ini tidak adil. Dia berada dalam posisi di mana dia seolah berperan sebagai pengajar, yang menyusun dan mengupayakan semuanya, supaya ia bisa meluapkan amarahnya secara benar pada suaminya. Ini memang tidak adil, karena dalam hal ini dia berusaha lebih keras.
Tapi, di sisi lain Louise mendapatkan sejumlah keuntungan, dan keuntungan tersebut akan membantunya mencapai tujuan yang diinginkan yaitu meningkatkan gairah dalam hubungan mereka.
Hasilnya mereka akan lebih bisa untuk saling memahami, daripada hanya terus memikirkan tentang kesadaran dirinya.
Pendekatan seperti ini menggunakan sesuatu yang disebut 'bekerja pada hubungan sebuah pasangan dengan mengandalkan satu orang'. Artinya, tetap menempatkan hubungan sebagai prioritas dalam suatu masalah ketika sedang bekerja bersama dengan seseorang yang menjadi klien. Daripada hanya fokus pada kedua orang yang sedang menjalin hubungan tersebut, kami lebih memilih mencari cara untuk memperkuat hubungan mereka.
Sejumlah perasaan, identitas dan cerita yang muncul merupakan produk dari suatu hubungan. Jadi salah satu cara untuk mengubah keadaan adalah dengan membuat perubahan signifikan dalam hubungan yang dijalani, daripada hanya fokus pada pengalaman pribadi individu. Hal ini tentunya memerlukan pendekatan secara langsung, bekerja secara menyeluruh, dan bukan hanya pada sebagian masalah saja.
Mungkin terdengar sedikit egois jika membahas keterkaitan antara hubungan seks dan perubahan perilaku seseorang - tapi orang-orang memang melakukan ini secara tidak sadar. Untuk mengetahui apa yang orang lain lakukan, untuk membawa hal tersebut sebagai yang paling penting dalam hubungan, lalu benar-benar memberikan orang lain (dalam hal ini pasangan kita) pilihan.
Usulan seperti di atas tidaklah manipulatif, tapi lebih kepada kejujuran. Dan hasil yang bisa didapatkan keadaan seperti ini adalah sesuatu yang akan meningkatkan hubungan dengan pasangan anda.







Sabtu, 16 Agustus 2014

Case #30 - Alasan yang baik untuk tidak merasakan hasrat seksual

Bridgit mengatakan kalau dia merasa seperti 'membeku' di bagian kewanitaannya. Dia sudah bercerai selama lima tahun dan sampai sekarang belum menjalin hubungan lagi.
Dia bilang kalau dia merasa disakiti oleh suaminya. Dia belum pernah bersikap sangat responsif pada suaminya secara seksual, meskipun sudah mencoba berbagai cara, dan terdapat banyak aspek yang baik dalam hubungan mereka.
Saya bertanya seperti apa dia disakiti oleh suaminya, tapi dia merasa sulit menjelaskannya. Dia bersikap tertutup pada suaminya, dan itulah yang membuatnya merasakan pengalaman buruk tersebut.
Tapi tampaknya perilaku suaminya tidak begitu membahayakan. Jadi kami mengarah pada hal lain.
Lalu dia mengatakan kalau dia tidak merasakan begitu banyak perasaan tersebut(hasrat seksual) di dalam tubuhnya.
Saya melibatkan diri saya, dan menceritakan pengalaman saya, dan betapa sulitnya saya merasakan perasaan apa pun di dalam tubuh saya.
Dia bilang kalau semua ini berawal dari pengalamannya ketika melihat saudara laki-lakinya dianiaya oleh orang tuanya sejak umur 8 tahun samapi 16 tahun. Setelah itu dia diculik, dan perlu waktu lima tahun sampai dia bisa menulis surat, dan kemudian diselamatkan. Tapi, setelah itu, dia berkeliaran di jalan bersama dengan para pencuri lainnya, mencuri barang-barang, masuk penjara beberapa kali dan bahkan mencuri dari dirinya ketika dia mencoba menolong saudaranya itu.
15 tahun lalu ayahnya meninggal, dan dia mengatakan kalau sejak saat itu saudara laki-lakinya terlihat baik-baik saja, merasa bahagia, dan hidupnya semakin membaik.
Walaupun demikian, dia (Bridgit) masih merasakan rasa sakit dan rasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa ketika saudara laki-lakinya dianiaya.
Saya tahu bahwa dia(Bridgit) tidak pernah mendapatkan dukungan dari siapapun selama itu - tidak ada teman bicara, tidak ada yang membuatnya nyaman.
ketika dia terus mengingat rasa sakit tersebut, saya duduk di sebelahnya, dan merangkulnya, jadi dia bisa merasakan dukungan yang tidak pernah dia dapatkan. Dia akan merasakannya, ketika saya berada di sana, bersama dengan dirinya.
Saat saya melakukan hal ini, dia mulai menangis dan terlihat meraskan sakit yang teramat sangat, sambil terengah-engah. Saya memeluknya, mendekapnya, mdan mendengarkan rasa sakit yang mengalir bersama tangisannya.
Setelah beberapa saat dia berhenti menangis, dan mulai tenang. Saya mulai berbicara lagi dengannya.
Lalu dia duduk dan menatap saya. Dia bilang 'saya ingin memberikan sesuatu pada anda'. Saya bisa merasakan perubahan dalam dirinya, dan energi yang saya berikan padanya. Saya bilang, saya bisa merasakannya, saya merasa hangat. Dia mengatakan kalau kehangatan mengalir di dalam tubuhnya.
Saya bertanya padanya apa yang ingin dia berikan, tapi dia masih terus bermain permainan kata-kata.
Lalu dia bilang 'Saya ingin mencium mata anda dengan mata saya'. Saya bisa merasakan sikap keterbukaan darinya dan aliran energi antara saya dan dia. Saya bilang, sekarang anda sudah menguasai diri anda sendiri, dan siap menjalin hubungan. Dia mengangguk.
Saya tidak mengambil gambaran pertama(perasaan yang membeku), ataupun yang gambaran yang kedua(kekurangan perasaan di dalam tubuh). Saya memberi respon dan menunggu sampai sesuatu yang lain muncul, yaitu masalah yang belum terselesaikan di dalam lingkungan keluarganya.
Trauma seperti itu pasti akan meninggalkan luka yang dalam baginya, dan meskipun kehidupan saudara laki-lakinya sudah lebih baik, dia masih merasakan sakit dan merasa bersalah. Dia tidak bisa melangkah maju sendirian sampai dia benar-benar bisa mengetahui di mana letak rasa sakit yang dialaminya, dan kemudian mendapatkan dukungan untuk mengatasi rasa sakit tersebut.
Pengalaman akan memicu penyembuhan trauma, membantu menghilangkan rasa sakit dan rasa bersalahnya secara spontan, dan siap menunjukkan hasrat seksualnya.

Senin, 11 Agustus 2014

Case #29 - Menumbuhkan gadis kecil yang pemarah

Cathy menceritakan masalah tentang 'kebencian pada ayahnya'. Saya bertanya apa yang dia benci dari ayahnya, dia bilang, soal ayahnya yang menceraikan ibunya saat dia masih berumur 4 tahun.
Saya mencoba mengenali sifatnya. Sudah 20 tahun berlalu, dan dia hanya bertemu 10 kali dengan ayahnya sejak saat itu. Dia tidak tahu banyak soal ayahnya.
Dia percaya kalau ibunya adalah korban dalam hal ini - ayahnya menjalin hubungan dengan wanita lain, dan menikah lagi.
Setelah dewasa, dia tidak pernah mencoba menghubungi ayahnya. Saat saya menanyakan alasannya, dia bilang kalau ayahnya telah membawa putri dari pernikahannya yang kedua bersamanya, dan Mary merasa sangat iri dengan perhatian yang diberikan ayahnya pada saudarinya itu(dalam hal ini mereka dihubungkan oleh darah ayah mereka).
Saya bilang padanya kalau saya tidak akan menyelesaikan masalah perceraian orang tuanya, atau kebenciannya akan hal itu(karena itu bukanlah inti masalah yang sebenarnya). Sebaliknya, saya hanya ingin berurusan dengan dirinya yang sudah dewasa, dan mencari tahu apa yang perlu dia lakukan saat ini.
Dia merasa segan, tapi saya menunjukkan batasan diri saya secara jelas.
Saya menceritakan padanya sebuah cerita tentang perceraian yang saya alami, dan percakapan yang saya lakukan dengan anak sulung saya saat dia tumbuh dewasa, dan kesalahpahaman yang dipendamnya.
Saya bilang padanya kalau saya ingin mendukungnya untuk berbicara dengan ayahnya, tapi bukan berarti membiarkannya menjadi korban, atau berada dalam posisi yang lemah.
Sebagai orang dewasa dia harus menentukan pilihannya sendiri agar bisa berlatih, dan harus bisa mencari tahu hal yang sebenarnya menurut ayahnya. Dia masih belum melakukan hal ini, jadi saya fokus pada hal ini agar dia bisa melakukannya di masa yang akan datang, daripada hanya bergantung pada masa lalu.
Di sisi lain, Mary memiliki suara dan perilaku seperti gadis kecil. Saya bilang padanya kalau saya memahami masalah yang dialaminya dan merasa kasihan, tapi sekarang hal itu tidaklah begitu penting, atau apakah interaksi dengan ayahnya bisa membantunya mendapatkan kembali tahun-tahun dalam hidupnya yang sudah hilang.
Kami harus tetap berada dalam masalah ini, dan mencari tahu sumber daya yang ada dalam dirinya, yang bisa berguna nantinya.
Ini merupakan keadaan yang sulit, melakukan tindakan yang sebaliknya justru akan membuatnya terjebak dalam posisi di mana dia tidak bisa melakukan apa-apa, dan terus-terusan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang sudah tidak bisa dia dapatkan.
Terkadang empati bisa membantu orang-orang, tapi mereka memerlukan batasan yang jelas berkaitan dengan hal itu, dan sebuah jalan untuk bergerak maju daripada hanya terus-terusan melihat ke belakang. Dia tidak punya pilihan, dan kapasitas untuk menghadapi ayahnya(karena sifatnya yang seperti seorang gadis kecil).
Dia bilang pada saya, jika dia menganggap ayahnya seperti seorang anak kecil, dia mungkin akan memukul ayahnya itu, Dia marah, dan saya mencoba menenangkannya. Tapi dia tidak menemukan jalan lain yang bisa menghubungkannya dengan ayahnya, dan kembali menunjukkan ekspresi marah layaknya seorang gadis kecil.
Jadi saya melakukan sebuah eksperimen: dimulai dengan menunjuk salah satu tempat di dalam ruangan, yang berada di samping ibunya, dan kemudian bergerak menuju ke tempat tersebut seolah di sana ada ayahnya. Dengan begini mungkin dia bisa bercakap dengan ayahnya atau setidaknya berdiri bersamanya.
Dia merasa tertantang dengan hal ini, dan sangat ketakutan. Sebisa mungkin saya berusaha meyakinkannya, tapi juga memberinya pilihan. Saya terus mengatakan kalau dia sudah berumur 24 tahun(bahwa dia sudah dewasa). Saya memintanya untuk menghentikan suaranya kekanak-kanakannya itu, dan bersikap lebih dewasa serta mampu mengambil pilihan.
Perlahan-lahan, dia setuju dengan eksperimen ini. Dia bergerak selangkah demi selangkah, di mana dia membutuhkan dukungan untuk setiap langkahnya, agar tidak terjatuh. Akhirnya dia mencapai tempat di mana ayahnya berada(seolah-olah), dan saya meminta seseorang untuk berperan sebagai ayahnya.
Dia sadar bahwa mustahil dia bisa bicara dengan ayahnya. Jadi saya bertanya apa yang dia rasakan, dan menggunakan perasaan itu dalam kalimat yang bisa dia katakan pada ayahnya nanti. Saya hanya memberinya sedikit bantuan, agar dia bisa memikirkan kalimat apa yang akan dia katakan. Dia harus lebih berani untuk mengatakan apa yang dia ingin katakan. Faktanya, dia mengeluarkan desahan nafas yang tajam, yang menunjukkan keluh-kesahnya tentang perhatian yang diberikan oleh ayahnya pada saudarinya.
Dia ingin bertanya pada ayahnya, tapi saya mengatakan padanya kalau dia hanya boleh membuat pernyataan. Saya tahu kalau dia akan melakukan manipulasi ketika bertanya pada ayahnya, dan saya mengingatkannya kembali tetang alasannya menemui ayahnya.
Akhirnya dia bicara pada ayahnya, mengatakana pada ayahnya kalau dia merasa marah, tersakiti, dan juga merindukan ayahnya itu. Kebanyakan dia berbicara tentang kegalauan dan ketakutan yang dirasakannya. Tanggapan representatif yang muncul adalah bahwa ayahnya merasa senang bertemu dengannya; Cathy sama sekali tidak menduga hal ini.
Baginya, semua proses ini terasa sangat sulit. Saya harus membuat eksperimen ini lebih mudah baginya, dengan mengatakan padanya kalau ini hanyalah terapi, dan orang-orang yang ada di depannya bukanlah ayah dan ibunya yang sesungguhnya, dan dia hanya berjalan di atas lantai bambu, tidak lebih. Hal ini sedikit mengurangi perasaan emosional dalam dirinya. Saya selalu membantunya dalam setiap langkahnya, mengajarinya, mendukungnya, dan menantangnya sebagai seseorang yang sudah dewasa.
Ini adalah sebuah contoh dari apa yang disebut 'safe emergency' dalam eksperimen Gestalt, di mana kami masuk ke dalam suatu wilayah yang sulit dijangkau, dan perlu melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah, dan tentunya memerlukan dukungan.
Lalu membuat orang yang mengikuti eksperimen ini mendapatkan pengalaman baru.
Tapi, eksperimen seperti itu tidaklah preskriptif, dan memberikan dorongan pada klien bukanlah bertujuan untuk membuat mereka harus melakukan sesuatu, tapi untuk membuat mereka menemukan kesadaran dan mampu membuat pilihan.

Jumat, 08 Agustus 2014

Case #28 - Celana yang berbicara

Nancy menutupi semua masalahnya. Dia merasa adanya kesenjangan antara menjadi seseorang yang otentik, dan kepribadiannya. Dia punya seorang anak dari pernikahan pertamanya; terdapat sejumlah kecil substansi nyata dalam suatu hubungan.
Dia membahas pernikahan keduanya, di mana dia melakukan beberapa aborsi, lalu suaminya menginginkan anak lagi, tapi dia sendiri tidak menginginkannya. Dia bilang kalau dia merasa bahagia bersama suami keduanya, tapi terkadang dia datang ke terapi ini tanpa sepengetahuan suaminya. Dia bilang kalau secara fisik dia tidak begitu kuat, dan ingin merubah hal ini.
Saya menunjukkan kalau sebuah masalah yang tidak diselesaikan akan menimbulkan masalah lain, dan jika seperti itu anda tidak akan bisa fokus pada suatu masalah. Faktanya, dia mengatakan kalau ahli terapi yang lain akan kesulitan mengatasi masalahnya.
Saya bertanya apa yang dia inginkan dari saya: 'diselamatkan' dia bilang. Saya menjelaskan bahwa ada bagian dari diri saya yang ingin menyelamatkannya, tapi sejauh ini tidak berjalan lancar; dan bagian diri saya yang lain ingin menguatkan hatinya, tapi itu juga tidak berjalan dengan lancar.
Pada awal sesi saya memperhatikan celananya - penuh warna dengan desain yang kompleks. Beberapa kali saya memperhatikannya. Saya juga memperhatikan mulutnya - dia menunjukkan berbagai macam ekspresi, dan sering menggigit bibirnya, atau menunjukkan giginya.
Saya mengatakan kedua hal tersebut padanya. Dia menggerakkan mulutnya secara tidak sadar dan tidak memperhatikan celana yang dikenakannya.
Setelah berdiskusi lebih lanjut, saya kembali membahas tentang celananya, dan menyarakan untuk mencari tahu apakah hal tersebut bisa membantu memperjelas masalah yang sedang dihadapinya.
Saya bertanya aspek seperti apa yang sangat dia sukai dari celananya itu. Dia menunjuk bagian kecil di sekitar pergelangan kaki, dan menunjuk pada tiga warna yang berbeda yang ada di celananya, kemudian mengatakan kalau warna-warna itu menggambarkan kehangatan dan kedinginan.
Jadi saya memintanya untuk berperan sebagai warna-warna tersebut, dan mendeskripsikan dirinya. Dia berbicara tentang kehangatan, warna yang cerah, sikap antusias dan cahaya yang muncul dari dirinya. Lalu berbicara tentang sikap dingin, yang merefleksikan dirinya yang suka menyendiri. Lalu kebekuan, perhitungan, dan kepribadian yang rasional.
Saya memberi respon setiap dia mengatakan sesuatu. Saat sampai pada bagian akhir, dia bereaksi dengan cepat, dan bilang kalau bagian ini tidaklah baik, kemudian menyalahkan dirinya sendiri.
Hal ini membuatnya sadar kalau ada banyak hal yang seharusnya dilakukan, yang akan menyebabkan masalah. Saya bertanya dari mana hal itu datang - dia bilang dari ibunya. Jadi kami menyediakan sandaran untuk ibunya, dan kemudian dia berbicara pada ibunya, tidak hanya menyatakan hubungannya saja, tapi juga memberitahu batasan tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan.
Lalu muncul mantan ibu mertuanya, yang dalam beberapa hal terus bersikap idealis. Saya memintanya untuk menempatkan ibu mertuanya itu di atas sandaran yang saya berikan tadi, dan sekali lagi, dia tidak hanya menyatakan hubungannya, tapi juga batasan dirinya.
Saya kembali pada salah satu bagian dari dirinya, bagian yang merasakan kebekuan, dan mencoba untuk memastikannya. Setiap dia ingin melepaskan kebekuan tersebut, saya bertanya apakah dia akan membiarkan hal itu mengatur dirinya, dan dia menjawab 'tidak'.
Akhirnya, dia bisa mendengarkan saya, karena saya bercerita tentang diri saya sendiri. Saya mengatakan padanya ketika saya sedang sibuk, atau merasa tenang, saya bisa merasa nyaman bersama dengan bagian dari dirinya tersebut. Atau jika dikaitkan dengan bagian dari diri saya yang mungkin mengalami kebekuan, tidak akan ada masalah. Tapi ketika dalam keadaan rentan, saya bisa saja mengalami masalah karena hal tersebut.
Dia bisa mendengar saya meskipun tanpa kontrak, dan mampu menarik perhatian saya. Dia bilang 'tapi ini adalah bagian yang ingin saya rubah, karena jika tidak, hal ini akan berdampak buruk pada orang lain'. Saya menjawab 'saya lebih tertarik dengan pengakuan anda bahwa ini adalah bagian yang sesungguhnya dari diri anda, dan saat anda berada pada posisi seperti itu - itulah yang membuat saya merasa aman bersama anda'.
Dia memahami kalau ini bukanlah menyangkut cara untung menghilangkan bagian dirinya tersebut, atau bahkan membentuk ulang bagian tersebut, tapi lebih kepada pengakuan akan keberadaan bagian tersebut.
Pada sesi ini, mengawalinya adalah hal yang sulit. Setiap kali dia mulai memberikan gambaran yang jelas tentang masalahnya, gambaran yang diberikannya terus berubah-ubah. Hal seperti ini layak mendapat perhatian. Saya memilih untuk tidak terfokus pada hal itu. Saya sedikit bermain dengan kemungkinan akan datangnya 'seorang penyelamat', tapi memutuskan untuk tidak melanjutkannya, karena sekali lagi, itu percuma saja.
Jadi daripada terus-terusan bermain 'kucing dan tikus', saya kembali pada gambaran yang saya anggap penting - yaitu celana. Fakta bahwa dia tidak terlalu memperhatikan celananya bisa membantu kita menemukan sesuatu di dalamnya, meskipun dia mungkin akan menolaknya. Dia sudah bisa mengenali ketiga bagian penting dari dirinya.
Lalu saya mengamati ketiga bagian tersebut dan perannya dalam suatu hubungan - saya juga memberi respon pada masing-masing dari mereka.
Penolakannya untuk bagian yang ketiga muncul, dan itu berarti ada pekerjaan yang harus diselesaikan: yaitu yang berkaitan dengan keharusan(hal yang sebaiknya dilakukan), dan sumber masalah.
Setelah masalah selesai, sekarang dia sudah bisa membawa bagian-bagian tersebut ke dalam hubungannya dengan saya, dan juga dengan dirinya sendiri.
Hasil yang ingin kami capai dalam proses Gestalt : Penggabungan.

Rabu, 06 Agustus 2014

Case #27 - Kejujuran moral

John menjalankan sebuah perusahaan kecil. Hal yang dia khawatirkan adalah sifatnya yang sangat jujur. Ketika berada dalam sebuah pasar di mana 'segala sesuatu terjadi', dia memiliki prinsip yang kuat, dan karena hal itu ia tidak bisa melangkah maju. Dia sama seperti keluarganya - selalu serius dalam hal yang berkaitan dengan kewajiban, menghormati orang tuanya, dan taat pada tradisi.
Dia merasa terbebani, dan bertanya-tanya apakah sifat jujurnya merupakan suatu hal yang baik, atau bisnisnya akan hancur karena dia tidak menggunakan beberapa trik kotor pada pesaing bisnisnya(misalnya seperti tindakan memata-matai).
Saya mencoba mengenali seperti apa caranya menjalani hidup di dunia, tapi hal ini tidak membuat banyak perubahan. Dia khawatir kalau hal seperti itu tidak akan banyak membantunya dalam kehidupan nyata, tapi pada waktu yang sama, dia juga ingin mempertahankan kerangka moralnya yang kuat.
Jadi saya memintanya untuk mengidentifikasi dua polaritas - karakter dari sejarah yang menggambarkan pria yang jujur, dan seseorang yang menggambarkan karakter yang menghalalkan segala cara.
Dia memilih keduanya, dan saya memintanya untuk berada dalam kedua posisi tersebut di saat yang bersamaan, dan seolah saling berdialog satu sama lain. Dia merasa hal ini teramat sangat sulit, dan ingin berhenti melakukannya. Dia bertanya 'bisakah saya menggabungkan kedua karakter ini?' Tapi penggabungan karakter tidak datang semudah itu...
Saat berperan sebagai pria yang jujur, dia bilang kalau dia bersikap seperti itu karena mengikuti tradisi Cina yang sudah turun-temurun, sementara peran yang lainnya selalu berkompromi dengan nilai-nilai moral.
Jadi sudah jelas - dia adalah orang yang sangat menghargai tradisi, sebuah etika mendalam dari budaya Cina.
Jadi saya menyarankannya untuk berhenti melakukan kedua peran tersebut, kembali duduk di kursinya, dan berbicara pada masing-masing pihak. Dia mengakui sisi yang taat pada tradisi, dan dia juga mengakui kalau dia mungkin bisa belajar sesuatu dari sisi yang lainnya.
Ini adalah sebuah langkah penting baginya.
Saya memintanya untuk membayangkan berada dalam posisi sebagai Kaisar, memilih dua orang penasihat daripada satu, yang merupakan keputusannya sendiri.
Dia merasa lebih baik ketika mendengar hal ini, dan bisa memahami arti dari penasihat yang 'baru'.
Dia menjelaskan kalau aspek seperti ini juga ada dalam kehidupan pribadinya, di mana dia terlalu serius dalam mengerjakan sesuatu, dan dia merasa tidak pernah beristirahat.
Jadi kami memperkenalkan dua penasihat lain, yang satu selalu mengingatkan tentang tanggung jawabnya, dan yang satu bersikap kurang sopan, rasa tanggung jawabnya lemah, dan hanya ingin menikmati hidup.
Sekali lagi, dia merasa lega memiliki dua orang penasihat, dan mampu membuat keputusan yang menentukan. Saya memintanya untuk mengidentifikasi orang yang sesungguhnya berperan sebagai orang yang hanya menikmati hidup, dan dia bilang kalau itu adalah sepupunya. Sebelumnya, dia hanya melihat sepupunya itu dari sisi negatif, tapi sekarang dia bisa lebih menghargai sepupunya itu, dan akan mempertimbangkan untuk menghabiskan waktu bersamanya.
Kami menggunakan orientasi Gestalt untuk menghadapi polaritas ini, di mana suatu hal selalu memilki sisi yang berlawanan. Identifikasi yang berlebihan terhadap satu sisi akan menimbulkan perpecahan. Proses Gestalt berorientasi pada penggabungan, yang terjadi melalui sebuah proses aktual, sehingga mampu menjalin hubungan dengan kedua sisi, daripada hanya sekedar memberi pemahaman intelektual.
John tidak begitu menyukai bentuk eksperimen yang biasanya kami lakukan(dialog langsung), jadi kami perlu bersikap lebih fleksibel dalam merancang kembali sebuah eksperimen, sebagai respon terhadap keinginan klien dan juga sebagai umpan balik padanya.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Case #26 - Memberi dan menerima

Tracy suka bepergian seorang diri. Dia senang menjadi wanita yang bebas. Dia pulang ke rumah setiap beberapa minggu dan hanya tinggal sebentar, itu memang cocok untuk orang yang suka bepergian. Dia merasa bosan berada di kota. Dia bilang hal itu cocok dengan suaminya, karena dia sendiri punya standar yang tinggi, dan pasti akan ada pertengkaran yang tidak terelakkan.
Dia merasa kalau hidupnya adalah miliknya, dan sekarang ketika anaknya sudah tumbuh dewasa, dia merasa tidak punya tanggung jawab lagi pada keluarga. Dia menikmati kehidupannya dan pekerjaannya.
Tapi, setelah beberapa lama, dia mulai merasa panik ketika berada di rumah.
Untuk masuk lebih dalam, saya bertanya tentang orang tuanya. Dia mendapatkan banyak kebebasan hingga tumbuh dewasa - ibunya sibuk dengan beberapa anak, ayahnya memberikan hak istimewa padanya, di mana dia diperlakukan seperti 'anak laki-laki', dan ayahnya menyayanginya. Tapi, ketika dia mendapat perhatian, perhatian tersebut sering datang dalam bentuk tekanan, misalnya tekanan untuk menjadi anak yang baik. Inti dari masalah ini - situasi. Entah dia mendapatkan perhatian, atau kebebasan, tetap saja tidak ada jalan tengah dalam masalah ini.
Selanjutnya, saya menyarankannya mengikuti sebuah eksperimen untuk mencari tahu bagaimana pandangan suaminya tentang hal ini.
Kami berdiri, berhadapan satu sama lain. Posisi tangan yang melipat menggambarkan keinginan untuk mendapatkan perhatian. Tangan terbuka menggambarkan kebebasan.
Dia tiba-tiba merasa tidak nyaman. Dia bilang kalau dia tidak ingin berada dalam posisi di mana dia bisa mendapatkan perhatian, dia merasakan terlalu banyak tekanan dan mulai panik.
Saya bertanya seberapa sering dia menginginkan berada dalam posisi seperti itu, ketika bersama suaminya. Dia bilang dia ingin mendapat lebih banyak kebebasan lagi. Saya bertanya sebanyak apa yang dia inginkan. Dia bilang - dua kali pulang ke rumah dalam setahun dan hanya tinggal beberapa hari saja.
ini bukanlah model hubungan yang saya inginkan, tapi saya mengakui kalau ini adalah model hubungannya.
Atas dasar itu, kami terus melanjutkan kegiatan ini. Dia ingin berada dalam posisi di mana dia menginginkan perhatian hanya dalam waktu yang sangat singkat, lalu berpindah ke posisi di mana dia menginginkan kekebasan. Dia bilang kalau dia merasa tidak nyaman ketika mengharapkan perhatian dari suaminya itu.
Jadi saya membalik situasinya, Saya berperan sebagai suaminya, dan menempatkan diri dalam posisi di mana saya menginginkan perhatian. Dan yang terjadi, dia semakin menjauh.
Dia merasakan banyak kebencian dalam dirinya. Dia merasa kalau suaminya selalu menginginkan sesuatu darinya, dan dia selalu memberikannya, tanpa mendapatkan balasan. Jadi dia mulai marah, dan segalanya menjadi jelas. Dia menjauh, suaminya terus-terusan meminta sesuatu darinya, dan dia terus menjauh karena hal itu.
Jadi saya menyarakan menambah satu posisi tangan lagi : yaitu memberi. Sangat jelas kalau dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pada orang lain. Tapi dalam hal ini, saya menganggap posisi memberi tersebut merupakan tanggung jawab suami, dan memintanya untuk berada dalam posisi di mana dia menginginkan perhatian.
Saat melakukan hal ini, dia mengutarakan keluhannya. Dia merasa kalau dia tidak pernah mendapatkan apa pun dari suaminya, dan bahwa selama bertahun-tahun, justru dia yang terus-terusan memberikan apa yang diinginkan suaminya itu.
Meskipun begitu, saya memintanya untuk memperhatikan keadaan saat ini, dan membiarkan dirinya merasakan pengalaman ketika dia mendapatkan sebuah pemberian, sambil mengekspresikan keluhannya. Dia setuju, dan merasa tergerak dengan hal ini. Tapi, beberapa saat kemudian dia merasa tidak nyaman - dia takut kalau apa yang ia dapatkan akan ia bayar kembali nantinya dalam bentuk pemberian.
Aspek masalah yang lebih dalam mulai terlihat.
Jadi saya menyarankan sebuah alternatif penyelesaian. Saya akan memberikan sesuatu padanya, dia akan menerimanya, lalu saat dia merasa tidak nyaman, dia bisa bertukar tempat dengan saya. Dia bisa mengembalikan pemberian saya, agar merasa lega dan terlepas dari apa yang dianggapnya sebagai 'hutang', dan saya akan menerimanya tapi hanya jika dia merasa nyaman.
Pengalaman baru seperti itu datang melalui eksperimen Gestalt, tapi itu bukanlah solusi, pengalaman tersebut akan membuka pandangan seseorang, dan memberikan referensi baru padanya untuk melihat kemungkinan yang bisa terjadi. Pengalaman tersebut juga bisa menjadi penyembuh, ketika lingkungan tidak dapat membantu anda.
Proses ini berawal dari pengamatan terhadap konteks masalah. Saat konteks masalah sudah jelas, eksperimennya bisa dimulai. Untuk melakukannya, sang pasien(Tracy) harus menganggap bahwa semua ini tidaklah direncanakan, tapi menganggapnya sebagai irama yang akan menenangkan dirinya.
Saya melibatkan diri saya agar bisa mengetahui apa yang dia butuhkan, dan mendapatkan wawasan tentang pengalaman langsung darinya.
Ini juga berarti saya bisa memberi respon dengan cara yang baru. Saya memodifikasi eksperimennya untuk memasukkan ketiga posisi tangan tadi ke dalam proses penyelesaian masalah, sebagai bahan yang paling penting. Hal ini juga akan membuatnya bisa merasakan pengalaman di mana dia memberi sesuatu pada orang lain, tanpa mengharapkan balasan yang berlebihan.

Minggu, 27 Juli 2014

Case #25 - 10,000 anak panah

Mary sudah bercerai dua kali, dan sekarang dia tinggal lagi dengan salah satu mantan suaminya, ayah dari anaknya.
Saya ingin tahu perjalanan hidupnya.
Mereka berdua menjalankan sebuah bisnis bersama-sama, tapi terkadang saling bertentangan. Seiring waktu, suaminya mulai bertindak kasar padanya. Hal ini terus berlanjut selama beberapa tahun.
Suaminya lalu memintanya untuk bercerai, dan kemudian menjalin hubungan dengan salah satu pegawainya.
Setelah ditolak oleh wanita tersebut, dia meminta rujuk pada Mary, dan Mary setuju.
Dia lalu kembali menyakiti istrinya itu.
Akhirnya, setelah beberapa tahun, Mary kehilangan kesabaran, dan menceraikannya.
Beberapa tahun kemudian, mereka mulai hidup bersama lagi, kali ini tanpa kekerasan, dan dia(Mary) mengatakan kalau dia hubungannya saat ini terasa 'memuaskan', tapi dia tidak senang dengan hal itu.
Ketika mengatakannya, tentu saja dia merasa kalau dia akan mendapatkan lebih banyak rasa sakit.
Saya bertanya bagaimana dia bisa bertahan; dia mengingat apa yang dikatakan ibu dan neneknya tentang cara untuk hidup(tanpa kekerasan).
Saya bertanya apa yang dia rasakan. Dia bilang 'rasanya jantungku seperti tertusuk 10,000 anak panah'.
Saya menyadari kalau dia lebih memilih menahan rasa sakitnya seorang diri, daripada membaginya dengan orang lain, tapi menyatakan rasa prihatin mungkin akan memberikan efek padanya.
Saya bertanya bagaimana rasanya berbicara dengan saya, yang merupakan seorang pria - dia bilang kalau dia merasa aman.
Saya bilang padanya kalau ada pria yang menancapkan panah di jantungnya, maka sebagai seorang pria, saya ingin melepaskan panah itu.
Saya mengatakan kalau saya akan menarik panah tersebut keluar, secara perlahan, jika dia menginginkannya.
Saya melakukannya, menjatuhkan panah tersebut ke tanah, dan saya bisa mengerti kalau dia merasa sangat kesakitan.
Saya mencari tahu apa yang dia rasakan: dia bilang kalau dia merasa kesakitan, tapi juga merasa sangat tersentuh, dan sedikit merasa lega.
Dia merasa lebih bebas, tapi tangannya mati rasa. Ini adalah indikasi kalau dia sudah cukup berusaha.
Akhirnya, saya menyarakan melakukan sebuah ritual dengan tiga anak panah, di mana terdapat beberapa pilihan. Dia memilih ritual pembakaran untuk membakar ketiga anak panah tersebut.
Jadi saya menceritakan padanya sebuah cerita fiksi tentang sebuah perjalanan, di mana kami berdua berperan sebagai subjek cerita, memasuki hutan untuk membakar anak panah tersebut, dan memberikan suatu pengakuan, lalu meninggalkan anak panah yang sudah terbakar tersebut di tanah.
Pengalamannya di bagian akhir cerita merupakan salah satu titik terang, yang terlihat sangat jelas.
Saya memintanya untuk melakukan sebuah tugas, mengulang proses yang sudah terjadi selama seharian ini, dalam pikirannya, dengan lebih banyak anak panah, dan juga mengulang ritual pembakaran tadi.
Dalam proses ini, pertama-tama saya mencoba memetakan batasan wilayah yang bisa dijangkau olehnya, agar dapat memahami konteks masalahnya. Lalu saya menggunakan fakta bahwa saya adalah seorang pria untuk menciptakan suatu proses penyembuhan. Secara perlahanm saya mencari tahu apa yang dirasakannya, dan sekaligus memberikan banyak pilihan untuknya.
Saya bekerja dengan menggunakan perumpamaan tentang anak panah tersebut, dan bertindak serius, dalam rangka memulai proses penyembuhan. Faktor yang paling penting bukanlah berapa banyak anak panah yang terlepas, atau  tentang pencabutan rasa sakit secara permanen, tapi faktanya kita telah menciptakan sebuah awal, dan itulah yang membuat perbedaan, dan bahwa sekarang dia sudah punya jalan untuk mengatasi masalah ini sendiri.
Eksperimen Gestalt dirancang berdasarkan bahan-bahan dan kata-kata yang berasal dari pasien, dan mampu bekerja karena adanya suatu dasar hubungan antara kami.

Jumat, 25 Juli 2014

Case #24 - Bayi yang ditinggalkan

Saya menghabiskan beberapa waktu agar bisa terhubung dengan Jane di awal sesi terapi. Saya memperhatikan benda berwarna kuning/emas yang dikenakannya. Dia bilang itu terlihat berwarna merah menyala, membawa kehangatan, dan membantunya mengatasi rasa kesedihan. Jane menjelaskan betapa dia sangat suka berada di antara orang-orang yang sangat bersemangat; jika mereka tidak bersemangat, dia tidak akan tertarik.
Saya bertanya padanya apa yang ingin dia kerjakan - dia bilang bisnis, tinggal bersama dengan ayahnya, dan memiliki seorang pacar. Saya memintanya untuk memilih satu saja, dan dia memilih bisnis.
Apa pun yang dipilih olehnya tidaklah menjadi masalah, dan itu bisa dibilang benar.
Saya bertanya tentang detil masalahnya - dia bilang masalahnya ada pada sifat egoisnya, dan obsesinya untuk mengejar sesuatu yang dia inginkan, tanpa menghiraukan orang di sekitarnya.
Saya memahami aspek positif dari hal ini, dan juga bisa mengerti dampaknya bagi orang lain.
Lalu dia mengungkapkan kalau dia ingin diakui, dan fakta bahwa dia adalah anak adopsi. Orang tua kandungnya meninggalkannya di bawah jembatan.
Menurut saya pengakuan ini membuat perubahan yang signifikan. Mengungkapkan hal yang sangat penting seperti itu berarti dia sangat percaya pada saya. Daripada hanya mengambil informasi yang berguna dan relevan tentang dirinya, dan konteks dari sikap egoisnya, saya lebih memilih mengatasi masalah ini dengan serius, sebagai respon terhadap 'pengakuan' yang dia butuhkan.
Kemudian saya juga memahami kalau dia membutuhkan kehangatan.
Saya bertanya apa yang dia rasakan, tapi dia tidak bisa menjelaskan semuanya. Kakinya kedinginan karena AC(air conditioner).
Jadi saya bertanya tentang sikap dingin dalam menjalani hubungan, dan menunjukkan bahwa sikap tersebut merupakan polaritas yang berlawanan dari kehangatan yang dia inginkan dalam menjalani hubungan.
Tapi saya tidak ingin terus-terusan menghabiskan waktu hanya untuk membahas hal itu. Saya bertanya berapa lama dia berada di bawah jembatan tersebut. Dia tidak tahu, jadi saya memintanya untuk menebak. Dia bilang mungkin seharian.
Sangat jelas, kalau dia pasti akan kedinginan jika ditinggalkan seharian seperti itu.
Jadi, setelah mengingatkannya pada trauma yang pernah dialaminya, saya ingin memastikan bahwa sesuatu yang berbeda akan terjadi. Saya bertanya apakah dia mau mendekat, dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
Dia bilang, ya, itulah yang selama ini diinginkan olehnya.
Jadi kami melakukannya, dan saya memintanya menarik nafas sebisa mungkin sambil merasakan kehangatan. Hal ini terjadi beberapa saat; dan terkadang dia sulit melakukannya. Tapi kemudian, nafasnya mulai terengah-engah, seperti seorang bayi. Pada akhirnya, dia mulai tenang; Saya bertanya tentang apa yang dia rasakan, dan dia bilang kalau dia merasa hangat tapi kakinya masih kedinginan... Jadi saya menutupi kakinya dengan pakaian, dan kami kembali kembali melanjutkan sesi ini. Dia merasa seperti ada suara yang muncul dari perutnya. Saya bertanya tentang pengalamannya, kemudian dia membahas pengalamannya ketika berusaha mengurangi berat badannya, dan kesulitan melakukan diet.
Yang jelas, ini tentang keinginan untuk mendapatkan kehangatan secara emosional. Jadi saya bertanya padanya, lalu menaruh tangan saya di perutnya, dan memintanya untuk menarik nafas.
Kami melakukan hal ini cukup lama, dan setelah memberi peringatan, saya memindahkan tangan saya.
Dia bilang kalau dia sudah banyak mengikuti hal semacam ini, tapi dia tidak pernah mendapat respon seperti yang saya berikan.
Proses Gestalt menjadikan fokus pada suatu masalah dan juga konteks masalah, serta hal apa yang sebenarnya hilang dari diri seseorang sebagai panduan. Segala sesuatu yang dia katakan datang secara bersamaan - kebutuhan akan pengakuan, keinginan untuk mendapatkan kehangatan, rasa lapar dan nafsu makan yang berlebihan, dan ketertarikan pada diri sendiri.
Jadi saya memberikan pemahaman sebisa mungkin, kebanyakan secara non-verbal, melalui sentuhan; sama seperti komunikasi non-verbal seorang bayi yang kebanyakan dilakukan dengan sentuhan.
Memberikan bantuan melalui terapi memang berguna, tapi perubahan yang paling mendalam hanya datang melalui suatu hubungan. Menyesuaikan diri dengan kebutuhan klien adalah kuncinya, lalu mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan tersebut akan memberikan dampak yang mendalam.

Senin, 21 Juli 2014

Case #23 - Ayah pemabuk

Mary memiliki masalah dengan ayahnya.
Awalnya saya menghabiskan waktu untuk mencoba menjalin suatu hubungan dengannya. Saya mengatakan pandangan saya tentang dirinya - antusias, terbuka, dan saat saya meresponnnya, dia bersikap hangat.
Saya meminta pendapatnya tentang diri saya. Dia merasa santai, karena menganggap saya adalah orang yang ramah.
Saya menanyakan perbedaan dan persamaan antara saya dan ayahnya.
Perbedaannya: ayahnya selalu komplain karena dia menghabiskan banyak uang; ayahnya terus-terusan minum, dan dia merasa khawatir.
Persamaannya: ayahnya juga mendukungnya, dan memberinya semangat, sama seperti saya.
Dia mengatakan kalau ibunya sangat mempercayainya, buktinya ibunya bercerita padanya ketika punya masalah dan keluhan tentang sang ayah.
Saya memintanya untuk mengidentifikasi apa yang dirasakan oleh tubuhnya. dia merasa seperti tertusuk di dadanya, tekanan di punggung dan lehernya, serta rasa sesak di perutnya. Kami bercerita selama beberapa saat.
Lalu saja memposisikan diri saya sebagai ayahnya, dan membayangkan apa yang mungkin akan dikatakan oleh seorang ayah.
Sebagai ayahnya saya berkata:
-'Saya ingin kamu mundur; pilihan yang saya buat adalah keputusanku sendiri; urusi saja kehidupanmu sendiri'.
-'Saya ingin kamu mengerti bahwa kami punya cara sendiri untuk melakukan sesuatu, tolong jangan menggganggu hubungan kami.'
-'Jika ibumu mengeluh padamu tentang diri saya, kamu harus mundur, dan bilang padanya kalau kamu tidak ingin mendengar hal itu.'
Setelah beberapa pernyataan yang saya berikan kepadanya berkaitan dengan perasaannya, dia mengatakan kalau dia merasa lega.
Pada akhirnya, saya memintanya untuk menarik nafas dalam-dalam dan merasakan kelegaan tersebut.
Dia ingin membahas masalah lain yang berkaitan dengan ayahnya, tapi saya memintanya untuk berhenti, dan hanya perlu merasakan kelegaan ini untuk beberapa saat.
-
Saya mengawali proses ini dengan membahas masalah hubungan, di mana saya tahu bahwa yang menjadi pokok masalah di sini adalah ayahnya, dan saya ingin mencari tahu cara seperti apa yang bisa membuat saya berada dalam posisi seperti itu. Dengan melakukan hal seperti itu, saya bisa dengan mudah melihat seperti apa masalah yang terjadi, dan sekaligus merasakannya.
Perbedaan dan persamaan tidak hanya membantu menjelaskan suatu hubungan, dan membedakan antara saya dan ayahnya, tapi juga memberikan titik temu suatu masalah, dan kunci untuk membangun mutualitas antara kami.
Sangat jelas terlihat, kalau Mary mengalami masalah parentifikasi(kedaan di mana anak harus berperan sebagai orang tua) dalam keluarganya, dan ini tidaklah baik.
Jadi dengan membayangkan posisi ayahnya, saya bisa menyampaikan pesan, yang bisa memberi dampak padanya. Hal ini serupa dengan pernyataan konstelasi keluarga.
Buktinya, terdapat beberapa masalah seperti alkohol, tapi kami tidak bisa mengatasinya sekaligus, dan yang jelas dia (Mary) harus berhenti menyadarkan ayahnya. Dengan mendengarkan perkataan ayahnya dia bisa mundur selangkah, dan fokus pada kebutuhannya sendiri.
Rasa lega merupakan indikasi kalau kita berada pada arah yang benar. Pemeriksaan secara somatik dapat memastikan saya memiliki dasar untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan kemudian mencari arah untuk perubahan.

Jumat, 18 Juli 2014

Case #22 - Serigala di depan pintu

Matt adalah seorang pengusaha sukses. Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk belajar mengenal dirinya, mengikuti kursus, membaca buku yang berkaitan dengan masalah kepribadian, dan membangun semangat positif untuk dirinya.
Setelah bercerai, hidupnya masuk ke dalam tahapan yang baru, dengan sebuah hubungan yang baru. Mantan istrinya selalu melimpahkan kesalahan padanya, khususnya dalam hal finansial dan pekerjaan. Meskipun dia sukses, dan bisnisnya lancar, dia tidaklah kaya. Istrinya selalu menyalahkannya karena hal tersebut.
Dia datang pada saya setelah merasakan kepanikan di tempat kerjanya. Dia merasa  'sulit bergerak' sepanjang hari.
Salah satu pemicunya bisa jadi karena percakapannya dengan mantan istrinya di pagi hari, yang menuntut agar dia menanggalkan semua urusannya dan segera pergi menjemput anak mereka di sekolah sebelum memasukkan mobilnya ke garasi. Seperti biasanya, istrinya terus menyalahkannya dan bersikap kasar.
Namun, sejumlah peristiwa lain terjadi - dia kehilangan sebuah kontrak besar yang sudah lama diinginkannya; terlambat membayar sejumlah besar tagihan; dia melakukan banyak hal positif, termasuk menulis buku, membangun karirnya, tapi tidak satupun yang dihargai;  seorang mantan rekan kerjanya menuntutnya; dan pada akhirnya dia hanya memiliki 100 dollar di rekeningnya.
Saya bertanya apa yang dia rasakan, dan memintanya untuk mengatakannya pada saya. Dia terus menanggapinya dengan ide-iden tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan menceritakan berbagai kejadian yang sudah berlalu...tapi saya memotong pembicaraannya, dan langsung memintanya untuk menjelaskan apa yang dirasakan tubuhnya.
Dia bilang, saat dia merasa panik, seluruh tubuhnya seperti terbungkus oleh jaket yang sangat ketat. Sekarang, dia merasa takut.
Saya memintanya untuk fokus pada perasaan tersebut...dia merasakan panas, dan sebuah lapisan ketakutan. Dia bilang ini seperti diserang oleh orang tidak dikenal.
Lalu dia memberikan analogi yang diajarkan ayahnya - serigala yang berdiri di depan pintu.
Dalam keadaan normal, dia selalu siap menerima tantangan saat kepercayaan dirinya meningkat. Tapi sekarang, saat rasa percaya dirinya hilang, serigala akan memangsanya.
Saya meyakinkannya kalau serigala tersebut tidak hanya berdiri di depan pintu, tapi di depannya.
Jadi saya mengajaknya untuk membayangkan kalau serigala tersebut berada di atas tubuhnya. Dia bilang 'air lirunya berjatuhan'. Jadi saya meminta bersikap seolah-olah dia terjatuh, dan mendengar suara serigala tersebut, dan merasakan air liur serigala tersebut jatuh di wajahnya. Saya menyuruhnya untuk menarik nafas dalam-dalam, merasakan ketakutan di seluruh tubuhnya, dan tetap tenang. Saya bilang padanya kalau dia akan merasakan energi yang sangat banyak di dalam tubuhnya, dan kalau energi tersebut berlebihan, dia bisa menghentikannya.
Dia melakukannya, dan seluruh tubuhnya merasa kejang. Setelah beberapa lama dia membuka matanya, dan mengatakan, kalau dia merasakan energi yang sangat banyak di dalam tubuhnya, sambil terkejut.
Lalu saya mengajaknya untuk membayangkan dirinya menjadi seekor serigala, berdiri di depan Matt, sambil meneteskan air liur. Saya memintanya untuk mengatakan sesuatu pada Matt, mungkin semacam pesan.
Setelah beberapa lama, dia membuka matanya. Dia menyadari sesuatu yang penting. Dia bilang 'aku benar-benar serigala yang bijak'.
Dia menyadari kalau dia dianggap sebagai seekor domba oleh serigala tersebut, dan pada posisi itu, dia terkesan lemah, tidak tegas, rentan terhadap serangan dan kehilangan kepercayaan diri. Saat berperan sebagai serigala dia berani menghadapi tantangan.
Dalam proses ini, saya menggunakan identifikasi, dan secara khusus memulai proses identifikasi dengan mengandalkan petunjuk yang ada. Saya mencari hal-hal yang berkaitan dengan 'serangan', di mana sangat jelas kalau hal itu bukanlah sebuah ancaman belaka, karena dia merasa sangat ketakutan - itu sebuah pengalaman akan suatu bahaya.
Jadi dalam teori Gestalt, kami masuk ke dalam pengalaman akan suatu bahaya tersebut, dengan membawa dukungan yang cukup. Lalu kami berpindah ke polaritas yang lain - berperan sebagai 'bahaya' tersebut, lalu menuju ke tahap penyembuhan untuk menyatukan kembali hal-hal yang terpecah.

Senin, 14 Juli 2014

Case #21 - Wanita liar

Cynthia sudah berpisah dengan suaminya yang ketiga. Mereka sudah bersama selama 20 tahun. Dia ingin melakukan suatu mimpi.
Saya memintanya untuk mengatakan kejadian dalam mimpinya, pada saat kejadian itu terjadi, secara perlahan-lahan.
Dia bilang :
Saya tertidur di sofa. DIa datang lalu memeluk dan mencium saya. Dia bilang kalau dia baru saja membeli rumah baru, yang murah, dengan gudang yang luas. Di dalam rumah juga terdapat kamar baru dan kamar mandi pribadi.
Kami berlajan ke rumah kami dan ada seorang anak di sana yang mengambil sepotong kayu berukuran besar, lalu melemparnya ke jendela rumah kami. Lalu John(sang suami) datang dan teleponnya berbunyi, dia bilang kalau dia harus bicara dengan pribadi dengan orang yang meneleponnya, jadi saya berpikir kalau dia punya pacar baru.
Lalu saya memintanya untuk memainkan beberapa peran, dan mendeskripskan masing-masing peran tersebut.
Pertama sebagai Rumah - dia bilang 'saya baru, bersinar, berkualitas, jauh lebih baik dari rumah yang lama. Menyenangkan, besar, luas.'
Lalu sebagai John - 'saya merasa senang, menginginkan sebuah rumah, sebuah keajaiban saya bisa membelinya, saya kuat dan punya tujuan hidup'
Lalu sebagai potongan kayu yang dilempar ke arah jendela - 'saya kasar, kuat, penuh tenanga, rumah yang lama sama sekali tidak berharga, saya ingin merusaknya, menimbulkan keributan'.
Lalu sebagai anak yang melempar kayu - yang berumur 13 tahun(dalam mimpi) - 'saya nakal, kuat'
Lalu sebagai pacar barunya John - 'saya menarik, elok dipandang'
Semua ini memerlukan  pelatihan, di mana Cynthia ingin menunjukkan interpretasinya akan arti dari setiap elemen dalam mimpinya. Tapi dalam teori Gestalt kami mencari pengalaman yang terjadi secara langsung daripada hanya sebatas penilaian. Jadi saya mengarahkannya untuk mengidentifikasi setiap elemen. dan mengatakan perasaannya daripada pikirannya.
Saya bertanya padanya apa yang paling sering muncul - dia bilang anak laki-laki tersebut. Anak yang suka bermain, yang bukan merupakan karakternya.
Lalu saya menghubungkan hal itu dengan kehidupannya saat ini - hal apa yang akan menjadi sesuatu di luar karakter anda yang biasanya?
Dia bilang - berada di luar sepanjang malam, menyalakan api unggun, pesta di pantai sambil diterangi sinar bulan, lalu tertidur.
Dia bilang kalau dia ingin membawa John, tapi sepertinya John tidak ingin melihat sisi liar seorang wanita pada diriku... jadi saya berusaha menyembunyikannya... dia tidak bisa menahan rasa curiganya.
Saya menyarankan agar dia berhenti menahan diri, dan pergi ke pesta dansa sendirian.
Lalu saya memintanya untuk membayangkan ketika dia mengatakan sesuatu kepada John, sesuatu yang membuatnya tidak terlihat seperti dirinya. Saya akan berperan sebagai John, dan dia bisa mengatakannya langsung pada saya.
- Dia akan mengatakan pada John kalau dia ingin mereka berdua berhenti menyibukkan diri sejenak, naik kapal pesiar dan mengarungi lautan, ke manapun arus membawa mereka, dia akan tetap memasak untuk John, dan mereka bisa membuat puisi bersama.
Lalu saya memintanya untuk mengatakan sesuatu yang lebih menantang pada John.
- Dia bilang padanya kalau di sudah lelah melihat John terus-terusan minum obat, dan merasa kesal dengan tahun-tahun yang sudah terbuang sia-sia, karena menunggu John berubah. Dia tidak akan membuat janji lagi, tapi langsung bertindak.
Saya memberi timbal balik selama proses tersebut - dia bersikap sangat gamblang, jelas, dan dalam posisi saya sebagai John, saya sangat menghargai sifat terus-terangnya itu.
Saya mengajaknya untuk bersikap lebih kuat, lebih kasar, lebih liar.
Dia membuat beberapa pernyataan tentang dirinya dan batasan dirinya.
Sekali lagi, saya memberi timbal balik padanya.
Dia merasa sangat kuat karena respon yang saya berikan.
Dalam teori Gestalt kami merancang eksperimen untuk menjelajahi gambaran yang muncul. Banyak gambaran yang muncul dalam mimpinya, tapi kami mencari gambaran yang paling menguras tenanganya - melakukan sesuatu seperti biasanya.
Hal ini bisa diartikan sebagai sikap liar, kuat, dan terus bergerak ke depan, baik dalam hal positif maupun negatif.
Saya berpartisipasi dalam eksperimen ini sebagai partnernya, dan memberinya timbal balik. hal ini akan membuatnya merasa kalau terapi ini terasa lebih nyata, dan juga membuatnya merasa lebih aman untuk mencoba sesuatu yang baru.
Teori Gestalt berkaitan dengan usaha untuk mencoba sesuatu yang berbeda, dengan dukungan, fokus pada kunci dari masalah yang timbul - mimpi adalah cara yang baik untuk mengakses masalah tersebut.

© Lifeworks 2012

Contact: admin@learngestalt.com

Who is this blog for?

These case examples are for therapists, students and those working in the helping professions. The purpose is to show how the Gestalt approach works in practice, linking theory with clinical challenges.

Because this is aimed at a professional audience, the blog is available by subscription. Please enter your email address to receive free blog updates every time a new entry is added.

Gestalt therapy sessions

For personal therapy with me: www.qualityonlinetherapy.com

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

© Lifeworks 2012

Contact: admin@learngestalt.com

Bahasa:

HOME

Informed Consent & Rates

Gestalt Therapy Defined

PAYMENTS

OTHER STUFF

Links

Book:Advice for Men about Women

BLOGS

English

Bahasa

Čeština

Deutsch

Español

Français

Greek ελληνικά

Hindi हिंदी

Magyar

Melayu

Italiano

Korean한국의

Polski

Português

Română

Russian Русский

Serbian српски

Chinese 中文

Japanese 日本語

Arabic العربية

English Bahasa České Deutsch Español Filipino Français ελληνικά हिंदी Magyar Melayu Italiano 한국의 Polski Português Română Русский српски 中文 日本語 العربية

If you are interested in following my travels/adventures in the course of my teaching work around the world, feel free to follow my Facebook Page!

Can you translate into Bahasa? I am looking for volunteers who would like to continue to make this translation available. Please contact me if you are interested.

vinaysmile

I publish this blog twice a week. It is translated into multiple languages. You are welcome to subscribe

logosm1

Interested in Gestalt Therapy training?

Contact Us

Links

Career Decision Coaching

Here

and here

Lifeworks

Gestalt training and much more

http://www.depth.net.au

For Men

Here is a dedicated site for my book Understanding the Woman in Your Life

http://www.manlovesawoman.com

The Unvirtues

A site dedicated to this novel approach to the dynamics of self interest in relationship

http://www.unvirtues.com

Learn Gestalt

A site with Gestalt training professional development videos, available for CE points

http://www.learngestalt.com

We help people live more authentically

Want more? See the Archives column here

Gestalt therapy demonstration sessions

Touching pain and anger: https://youtu.be/3r-lsBhfzqY (40m)

Permission to feel: https://youtu.be/2rSNpLBAqj0 (54m)

Marriage after 50: https://youtu.be/JRb1mhmtIVQ (1h 17m)

Serafina - Angel wings: https://youtu.be/iY_FeviFRGQ (45m)

Barb Wire Tattoo: https://youtu.be/WlA9Xfgv6NM (37m)

A natural empath; vibrating with joy: https://youtu.be/tZCHRUrjJ7Y (39m)

Dealing with a metal spider: https://youtu.be/3Z9905IhYBA (51m)

Interactive group: https://youtu.be/G0DVb81X2tY (1h 57m)