lifeworksgestaltlogobase

About Me

Foto saya

I teach and practice Gestalt therapy, Career decision coaching, and Family Constellations work. As well as Australia, I teach workshops and training in China, Japan, Korea, the USA & Mexico. I am author of Understanding The Woman In Your Life, a book of advice for men about relationships with women. In my work as director of Lifeworks I provide therapy,  training and supervision. I am a Phd candidate, studying the interpersonal dynamics of power, and am currently director of an MA in Spiritual Psychology for Ryokan College, an accredited online institution based in LA.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Case #30 - Alasan yang baik untuk tidak merasakan hasrat seksual

Bridgit mengatakan kalau dia merasa seperti 'membeku' di bagian kewanitaannya. Dia sudah bercerai selama lima tahun dan sampai sekarang belum menjalin hubungan lagi.
Dia bilang kalau dia merasa disakiti oleh suaminya. Dia belum pernah bersikap sangat responsif pada suaminya secara seksual, meskipun sudah mencoba berbagai cara, dan terdapat banyak aspek yang baik dalam hubungan mereka.
Saya bertanya seperti apa dia disakiti oleh suaminya, tapi dia merasa sulit menjelaskannya. Dia bersikap tertutup pada suaminya, dan itulah yang membuatnya merasakan pengalaman buruk tersebut.
Tapi tampaknya perilaku suaminya tidak begitu membahayakan. Jadi kami mengarah pada hal lain.
Lalu dia mengatakan kalau dia tidak merasakan begitu banyak perasaan tersebut(hasrat seksual) di dalam tubuhnya.
Saya melibatkan diri saya, dan menceritakan pengalaman saya, dan betapa sulitnya saya merasakan perasaan apa pun di dalam tubuh saya.
Dia bilang kalau semua ini berawal dari pengalamannya ketika melihat saudara laki-lakinya dianiaya oleh orang tuanya sejak umur 8 tahun samapi 16 tahun. Setelah itu dia diculik, dan perlu waktu lima tahun sampai dia bisa menulis surat, dan kemudian diselamatkan. Tapi, setelah itu, dia berkeliaran di jalan bersama dengan para pencuri lainnya, mencuri barang-barang, masuk penjara beberapa kali dan bahkan mencuri dari dirinya ketika dia mencoba menolong saudaranya itu.
15 tahun lalu ayahnya meninggal, dan dia mengatakan kalau sejak saat itu saudara laki-lakinya terlihat baik-baik saja, merasa bahagia, dan hidupnya semakin membaik.
Walaupun demikian, dia (Bridgit) masih merasakan rasa sakit dan rasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa ketika saudara laki-lakinya dianiaya.
Saya tahu bahwa dia(Bridgit) tidak pernah mendapatkan dukungan dari siapapun selama itu - tidak ada teman bicara, tidak ada yang membuatnya nyaman.
ketika dia terus mengingat rasa sakit tersebut, saya duduk di sebelahnya, dan merangkulnya, jadi dia bisa merasakan dukungan yang tidak pernah dia dapatkan. Dia akan merasakannya, ketika saya berada di sana, bersama dengan dirinya.
Saat saya melakukan hal ini, dia mulai menangis dan terlihat meraskan sakit yang teramat sangat, sambil terengah-engah. Saya memeluknya, mendekapnya, mdan mendengarkan rasa sakit yang mengalir bersama tangisannya.
Setelah beberapa saat dia berhenti menangis, dan mulai tenang. Saya mulai berbicara lagi dengannya.
Lalu dia duduk dan menatap saya. Dia bilang 'saya ingin memberikan sesuatu pada anda'. Saya bisa merasakan perubahan dalam dirinya, dan energi yang saya berikan padanya. Saya bilang, saya bisa merasakannya, saya merasa hangat. Dia mengatakan kalau kehangatan mengalir di dalam tubuhnya.
Saya bertanya padanya apa yang ingin dia berikan, tapi dia masih terus bermain permainan kata-kata.
Lalu dia bilang 'Saya ingin mencium mata anda dengan mata saya'. Saya bisa merasakan sikap keterbukaan darinya dan aliran energi antara saya dan dia. Saya bilang, sekarang anda sudah menguasai diri anda sendiri, dan siap menjalin hubungan. Dia mengangguk.
Saya tidak mengambil gambaran pertama(perasaan yang membeku), ataupun yang gambaran yang kedua(kekurangan perasaan di dalam tubuh). Saya memberi respon dan menunggu sampai sesuatu yang lain muncul, yaitu masalah yang belum terselesaikan di dalam lingkungan keluarganya.
Trauma seperti itu pasti akan meninggalkan luka yang dalam baginya, dan meskipun kehidupan saudara laki-lakinya sudah lebih baik, dia masih merasakan sakit dan merasa bersalah. Dia tidak bisa melangkah maju sendirian sampai dia benar-benar bisa mengetahui di mana letak rasa sakit yang dialaminya, dan kemudian mendapatkan dukungan untuk mengatasi rasa sakit tersebut.
Pengalaman akan memicu penyembuhan trauma, membantu menghilangkan rasa sakit dan rasa bersalahnya secara spontan, dan siap menunjukkan hasrat seksualnya.

Senin, 11 Agustus 2014

Case #29 - Menumbuhkan gadis kecil yang pemarah

Cathy menceritakan masalah tentang 'kebencian pada ayahnya'. Saya bertanya apa yang dia benci dari ayahnya, dia bilang, soal ayahnya yang menceraikan ibunya saat dia masih berumur 4 tahun.
Saya mencoba mengenali sifatnya. Sudah 20 tahun berlalu, dan dia hanya bertemu 10 kali dengan ayahnya sejak saat itu. Dia tidak tahu banyak soal ayahnya.
Dia percaya kalau ibunya adalah korban dalam hal ini - ayahnya menjalin hubungan dengan wanita lain, dan menikah lagi.
Setelah dewasa, dia tidak pernah mencoba menghubungi ayahnya. Saat saya menanyakan alasannya, dia bilang kalau ayahnya telah membawa putri dari pernikahannya yang kedua bersamanya, dan Mary merasa sangat iri dengan perhatian yang diberikan ayahnya pada saudarinya itu(dalam hal ini mereka dihubungkan oleh darah ayah mereka).
Saya bilang padanya kalau saya tidak akan menyelesaikan masalah perceraian orang tuanya, atau kebenciannya akan hal itu(karena itu bukanlah inti masalah yang sebenarnya). Sebaliknya, saya hanya ingin berurusan dengan dirinya yang sudah dewasa, dan mencari tahu apa yang perlu dia lakukan saat ini.
Dia merasa segan, tapi saya menunjukkan batasan diri saya secara jelas.
Saya menceritakan padanya sebuah cerita tentang perceraian yang saya alami, dan percakapan yang saya lakukan dengan anak sulung saya saat dia tumbuh dewasa, dan kesalahpahaman yang dipendamnya.
Saya bilang padanya kalau saya ingin mendukungnya untuk berbicara dengan ayahnya, tapi bukan berarti membiarkannya menjadi korban, atau berada dalam posisi yang lemah.
Sebagai orang dewasa dia harus menentukan pilihannya sendiri agar bisa berlatih, dan harus bisa mencari tahu hal yang sebenarnya menurut ayahnya. Dia masih belum melakukan hal ini, jadi saya fokus pada hal ini agar dia bisa melakukannya di masa yang akan datang, daripada hanya bergantung pada masa lalu.
Di sisi lain, Mary memiliki suara dan perilaku seperti gadis kecil. Saya bilang padanya kalau saya memahami masalah yang dialaminya dan merasa kasihan, tapi sekarang hal itu tidaklah begitu penting, atau apakah interaksi dengan ayahnya bisa membantunya mendapatkan kembali tahun-tahun dalam hidupnya yang sudah hilang.
Kami harus tetap berada dalam masalah ini, dan mencari tahu sumber daya yang ada dalam dirinya, yang bisa berguna nantinya.
Ini merupakan keadaan yang sulit, melakukan tindakan yang sebaliknya justru akan membuatnya terjebak dalam posisi di mana dia tidak bisa melakukan apa-apa, dan terus-terusan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang sudah tidak bisa dia dapatkan.
Terkadang empati bisa membantu orang-orang, tapi mereka memerlukan batasan yang jelas berkaitan dengan hal itu, dan sebuah jalan untuk bergerak maju daripada hanya terus-terusan melihat ke belakang. Dia tidak punya pilihan, dan kapasitas untuk menghadapi ayahnya(karena sifatnya yang seperti seorang gadis kecil).
Dia bilang pada saya, jika dia menganggap ayahnya seperti seorang anak kecil, dia mungkin akan memukul ayahnya itu, Dia marah, dan saya mencoba menenangkannya. Tapi dia tidak menemukan jalan lain yang bisa menghubungkannya dengan ayahnya, dan kembali menunjukkan ekspresi marah layaknya seorang gadis kecil.
Jadi saya melakukan sebuah eksperimen: dimulai dengan menunjuk salah satu tempat di dalam ruangan, yang berada di samping ibunya, dan kemudian bergerak menuju ke tempat tersebut seolah di sana ada ayahnya. Dengan begini mungkin dia bisa bercakap dengan ayahnya atau setidaknya berdiri bersamanya.
Dia merasa tertantang dengan hal ini, dan sangat ketakutan. Sebisa mungkin saya berusaha meyakinkannya, tapi juga memberinya pilihan. Saya terus mengatakan kalau dia sudah berumur 24 tahun(bahwa dia sudah dewasa). Saya memintanya untuk menghentikan suaranya kekanak-kanakannya itu, dan bersikap lebih dewasa serta mampu mengambil pilihan.
Perlahan-lahan, dia setuju dengan eksperimen ini. Dia bergerak selangkah demi selangkah, di mana dia membutuhkan dukungan untuk setiap langkahnya, agar tidak terjatuh. Akhirnya dia mencapai tempat di mana ayahnya berada(seolah-olah), dan saya meminta seseorang untuk berperan sebagai ayahnya.
Dia sadar bahwa mustahil dia bisa bicara dengan ayahnya. Jadi saya bertanya apa yang dia rasakan, dan menggunakan perasaan itu dalam kalimat yang bisa dia katakan pada ayahnya nanti. Saya hanya memberinya sedikit bantuan, agar dia bisa memikirkan kalimat apa yang akan dia katakan. Dia harus lebih berani untuk mengatakan apa yang dia ingin katakan. Faktanya, dia mengeluarkan desahan nafas yang tajam, yang menunjukkan keluh-kesahnya tentang perhatian yang diberikan oleh ayahnya pada saudarinya.
Dia ingin bertanya pada ayahnya, tapi saya mengatakan padanya kalau dia hanya boleh membuat pernyataan. Saya tahu kalau dia akan melakukan manipulasi ketika bertanya pada ayahnya, dan saya mengingatkannya kembali tetang alasannya menemui ayahnya.
Akhirnya dia bicara pada ayahnya, mengatakana pada ayahnya kalau dia merasa marah, tersakiti, dan juga merindukan ayahnya itu. Kebanyakan dia berbicara tentang kegalauan dan ketakutan yang dirasakannya. Tanggapan representatif yang muncul adalah bahwa ayahnya merasa senang bertemu dengannya; Cathy sama sekali tidak menduga hal ini.
Baginya, semua proses ini terasa sangat sulit. Saya harus membuat eksperimen ini lebih mudah baginya, dengan mengatakan padanya kalau ini hanyalah terapi, dan orang-orang yang ada di depannya bukanlah ayah dan ibunya yang sesungguhnya, dan dia hanya berjalan di atas lantai bambu, tidak lebih. Hal ini sedikit mengurangi perasaan emosional dalam dirinya. Saya selalu membantunya dalam setiap langkahnya, mengajarinya, mendukungnya, dan menantangnya sebagai seseorang yang sudah dewasa.
Ini adalah sebuah contoh dari apa yang disebut 'safe emergency' dalam eksperimen Gestalt, di mana kami masuk ke dalam suatu wilayah yang sulit dijangkau, dan perlu melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah, dan tentunya memerlukan dukungan.
Lalu membuat orang yang mengikuti eksperimen ini mendapatkan pengalaman baru.
Tapi, eksperimen seperti itu tidaklah preskriptif, dan memberikan dorongan pada klien bukanlah bertujuan untuk membuat mereka harus melakukan sesuatu, tapi untuk membuat mereka menemukan kesadaran dan mampu membuat pilihan.

Jumat, 08 Agustus 2014

Case #28 - Celana yang berbicara

Nancy menutupi semua masalahnya. Dia merasa adanya kesenjangan antara menjadi seseorang yang otentik, dan kepribadiannya. Dia punya seorang anak dari pernikahan pertamanya; terdapat sejumlah kecil substansi nyata dalam suatu hubungan.
Dia membahas pernikahan keduanya, di mana dia melakukan beberapa aborsi, lalu suaminya menginginkan anak lagi, tapi dia sendiri tidak menginginkannya. Dia bilang kalau dia merasa bahagia bersama suami keduanya, tapi terkadang dia datang ke terapi ini tanpa sepengetahuan suaminya. Dia bilang kalau secara fisik dia tidak begitu kuat, dan ingin merubah hal ini.
Saya menunjukkan kalau sebuah masalah yang tidak diselesaikan akan menimbulkan masalah lain, dan jika seperti itu anda tidak akan bisa fokus pada suatu masalah. Faktanya, dia mengatakan kalau ahli terapi yang lain akan kesulitan mengatasi masalahnya.
Saya bertanya apa yang dia inginkan dari saya: 'diselamatkan' dia bilang. Saya menjelaskan bahwa ada bagian dari diri saya yang ingin menyelamatkannya, tapi sejauh ini tidak berjalan lancar; dan bagian diri saya yang lain ingin menguatkan hatinya, tapi itu juga tidak berjalan dengan lancar.
Pada awal sesi saya memperhatikan celananya - penuh warna dengan desain yang kompleks. Beberapa kali saya memperhatikannya. Saya juga memperhatikan mulutnya - dia menunjukkan berbagai macam ekspresi, dan sering menggigit bibirnya, atau menunjukkan giginya.
Saya mengatakan kedua hal tersebut padanya. Dia menggerakkan mulutnya secara tidak sadar dan tidak memperhatikan celana yang dikenakannya.
Setelah berdiskusi lebih lanjut, saya kembali membahas tentang celananya, dan menyarakan untuk mencari tahu apakah hal tersebut bisa membantu memperjelas masalah yang sedang dihadapinya.
Saya bertanya aspek seperti apa yang sangat dia sukai dari celananya itu. Dia menunjuk bagian kecil di sekitar pergelangan kaki, dan menunjuk pada tiga warna yang berbeda yang ada di celananya, kemudian mengatakan kalau warna-warna itu menggambarkan kehangatan dan kedinginan.
Jadi saya memintanya untuk berperan sebagai warna-warna tersebut, dan mendeskripsikan dirinya. Dia berbicara tentang kehangatan, warna yang cerah, sikap antusias dan cahaya yang muncul dari dirinya. Lalu berbicara tentang sikap dingin, yang merefleksikan dirinya yang suka menyendiri. Lalu kebekuan, perhitungan, dan kepribadian yang rasional.
Saya memberi respon setiap dia mengatakan sesuatu. Saat sampai pada bagian akhir, dia bereaksi dengan cepat, dan bilang kalau bagian ini tidaklah baik, kemudian menyalahkan dirinya sendiri.
Hal ini membuatnya sadar kalau ada banyak hal yang seharusnya dilakukan, yang akan menyebabkan masalah. Saya bertanya dari mana hal itu datang - dia bilang dari ibunya. Jadi kami menyediakan sandaran untuk ibunya, dan kemudian dia berbicara pada ibunya, tidak hanya menyatakan hubungannya saja, tapi juga memberitahu batasan tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan.
Lalu muncul mantan ibu mertuanya, yang dalam beberapa hal terus bersikap idealis. Saya memintanya untuk menempatkan ibu mertuanya itu di atas sandaran yang saya berikan tadi, dan sekali lagi, dia tidak hanya menyatakan hubungannya, tapi juga batasan dirinya.
Saya kembali pada salah satu bagian dari dirinya, bagian yang merasakan kebekuan, dan mencoba untuk memastikannya. Setiap dia ingin melepaskan kebekuan tersebut, saya bertanya apakah dia akan membiarkan hal itu mengatur dirinya, dan dia menjawab 'tidak'.
Akhirnya, dia bisa mendengarkan saya, karena saya bercerita tentang diri saya sendiri. Saya mengatakan padanya ketika saya sedang sibuk, atau merasa tenang, saya bisa merasa nyaman bersama dengan bagian dari dirinya tersebut. Atau jika dikaitkan dengan bagian dari diri saya yang mungkin mengalami kebekuan, tidak akan ada masalah. Tapi ketika dalam keadaan rentan, saya bisa saja mengalami masalah karena hal tersebut.
Dia bisa mendengar saya meskipun tanpa kontrak, dan mampu menarik perhatian saya. Dia bilang 'tapi ini adalah bagian yang ingin saya rubah, karena jika tidak, hal ini akan berdampak buruk pada orang lain'. Saya menjawab 'saya lebih tertarik dengan pengakuan anda bahwa ini adalah bagian yang sesungguhnya dari diri anda, dan saat anda berada pada posisi seperti itu - itulah yang membuat saya merasa aman bersama anda'.
Dia memahami kalau ini bukanlah menyangkut cara untung menghilangkan bagian dirinya tersebut, atau bahkan membentuk ulang bagian tersebut, tapi lebih kepada pengakuan akan keberadaan bagian tersebut.
Pada sesi ini, mengawalinya adalah hal yang sulit. Setiap kali dia mulai memberikan gambaran yang jelas tentang masalahnya, gambaran yang diberikannya terus berubah-ubah. Hal seperti ini layak mendapat perhatian. Saya memilih untuk tidak terfokus pada hal itu. Saya sedikit bermain dengan kemungkinan akan datangnya 'seorang penyelamat', tapi memutuskan untuk tidak melanjutkannya, karena sekali lagi, itu percuma saja.
Jadi daripada terus-terusan bermain 'kucing dan tikus', saya kembali pada gambaran yang saya anggap penting - yaitu celana. Fakta bahwa dia tidak terlalu memperhatikan celananya bisa membantu kita menemukan sesuatu di dalamnya, meskipun dia mungkin akan menolaknya. Dia sudah bisa mengenali ketiga bagian penting dari dirinya.
Lalu saya mengamati ketiga bagian tersebut dan perannya dalam suatu hubungan - saya juga memberi respon pada masing-masing dari mereka.
Penolakannya untuk bagian yang ketiga muncul, dan itu berarti ada pekerjaan yang harus diselesaikan: yaitu yang berkaitan dengan keharusan(hal yang sebaiknya dilakukan), dan sumber masalah.
Setelah masalah selesai, sekarang dia sudah bisa membawa bagian-bagian tersebut ke dalam hubungannya dengan saya, dan juga dengan dirinya sendiri.
Hasil yang ingin kami capai dalam proses Gestalt : Penggabungan.

Rabu, 06 Agustus 2014

Case #27 - Kejujuran moral

John menjalankan sebuah perusahaan kecil. Hal yang dia khawatirkan adalah sifatnya yang sangat jujur. Ketika berada dalam sebuah pasar di mana 'segala sesuatu terjadi', dia memiliki prinsip yang kuat, dan karena hal itu ia tidak bisa melangkah maju. Dia sama seperti keluarganya - selalu serius dalam hal yang berkaitan dengan kewajiban, menghormati orang tuanya, dan taat pada tradisi.
Dia merasa terbebani, dan bertanya-tanya apakah sifat jujurnya merupakan suatu hal yang baik, atau bisnisnya akan hancur karena dia tidak menggunakan beberapa trik kotor pada pesaing bisnisnya(misalnya seperti tindakan memata-matai).
Saya mencoba mengenali seperti apa caranya menjalani hidup di dunia, tapi hal ini tidak membuat banyak perubahan. Dia khawatir kalau hal seperti itu tidak akan banyak membantunya dalam kehidupan nyata, tapi pada waktu yang sama, dia juga ingin mempertahankan kerangka moralnya yang kuat.
Jadi saya memintanya untuk mengidentifikasi dua polaritas - karakter dari sejarah yang menggambarkan pria yang jujur, dan seseorang yang menggambarkan karakter yang menghalalkan segala cara.
Dia memilih keduanya, dan saya memintanya untuk berada dalam kedua posisi tersebut di saat yang bersamaan, dan seolah saling berdialog satu sama lain. Dia merasa hal ini teramat sangat sulit, dan ingin berhenti melakukannya. Dia bertanya 'bisakah saya menggabungkan kedua karakter ini?' Tapi penggabungan karakter tidak datang semudah itu...
Saat berperan sebagai pria yang jujur, dia bilang kalau dia bersikap seperti itu karena mengikuti tradisi Cina yang sudah turun-temurun, sementara peran yang lainnya selalu berkompromi dengan nilai-nilai moral.
Jadi sudah jelas - dia adalah orang yang sangat menghargai tradisi, sebuah etika mendalam dari budaya Cina.
Jadi saya menyarankannya untuk berhenti melakukan kedua peran tersebut, kembali duduk di kursinya, dan berbicara pada masing-masing pihak. Dia mengakui sisi yang taat pada tradisi, dan dia juga mengakui kalau dia mungkin bisa belajar sesuatu dari sisi yang lainnya.
Ini adalah sebuah langkah penting baginya.
Saya memintanya untuk membayangkan berada dalam posisi sebagai Kaisar, memilih dua orang penasihat daripada satu, yang merupakan keputusannya sendiri.
Dia merasa lebih baik ketika mendengar hal ini, dan bisa memahami arti dari penasihat yang 'baru'.
Dia menjelaskan kalau aspek seperti ini juga ada dalam kehidupan pribadinya, di mana dia terlalu serius dalam mengerjakan sesuatu, dan dia merasa tidak pernah beristirahat.
Jadi kami memperkenalkan dua penasihat lain, yang satu selalu mengingatkan tentang tanggung jawabnya, dan yang satu bersikap kurang sopan, rasa tanggung jawabnya lemah, dan hanya ingin menikmati hidup.
Sekali lagi, dia merasa lega memiliki dua orang penasihat, dan mampu membuat keputusan yang menentukan. Saya memintanya untuk mengidentifikasi orang yang sesungguhnya berperan sebagai orang yang hanya menikmati hidup, dan dia bilang kalau itu adalah sepupunya. Sebelumnya, dia hanya melihat sepupunya itu dari sisi negatif, tapi sekarang dia bisa lebih menghargai sepupunya itu, dan akan mempertimbangkan untuk menghabiskan waktu bersamanya.
Kami menggunakan orientasi Gestalt untuk menghadapi polaritas ini, di mana suatu hal selalu memilki sisi yang berlawanan. Identifikasi yang berlebihan terhadap satu sisi akan menimbulkan perpecahan. Proses Gestalt berorientasi pada penggabungan, yang terjadi melalui sebuah proses aktual, sehingga mampu menjalin hubungan dengan kedua sisi, daripada hanya sekedar memberi pemahaman intelektual.
John tidak begitu menyukai bentuk eksperimen yang biasanya kami lakukan(dialog langsung), jadi kami perlu bersikap lebih fleksibel dalam merancang kembali sebuah eksperimen, sebagai respon terhadap keinginan klien dan juga sebagai umpan balik padanya.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Case #26 - Memberi dan menerima

Tracy suka bepergian seorang diri. Dia senang menjadi wanita yang bebas. Dia pulang ke rumah setiap beberapa minggu dan hanya tinggal sebentar, itu memang cocok untuk orang yang suka bepergian. Dia merasa bosan berada di kota. Dia bilang hal itu cocok dengan suaminya, karena dia sendiri punya standar yang tinggi, dan pasti akan ada pertengkaran yang tidak terelakkan.
Dia merasa kalau hidupnya adalah miliknya, dan sekarang ketika anaknya sudah tumbuh dewasa, dia merasa tidak punya tanggung jawab lagi pada keluarga. Dia menikmati kehidupannya dan pekerjaannya.
Tapi, setelah beberapa lama, dia mulai merasa panik ketika berada di rumah.
Untuk masuk lebih dalam, saya bertanya tentang orang tuanya. Dia mendapatkan banyak kebebasan hingga tumbuh dewasa - ibunya sibuk dengan beberapa anak, ayahnya memberikan hak istimewa padanya, di mana dia diperlakukan seperti 'anak laki-laki', dan ayahnya menyayanginya. Tapi, ketika dia mendapat perhatian, perhatian tersebut sering datang dalam bentuk tekanan, misalnya tekanan untuk menjadi anak yang baik. Inti dari masalah ini - situasi. Entah dia mendapatkan perhatian, atau kebebasan, tetap saja tidak ada jalan tengah dalam masalah ini.
Selanjutnya, saya menyarankannya mengikuti sebuah eksperimen untuk mencari tahu bagaimana pandangan suaminya tentang hal ini.
Kami berdiri, berhadapan satu sama lain. Posisi tangan yang melipat menggambarkan keinginan untuk mendapatkan perhatian. Tangan terbuka menggambarkan kebebasan.
Dia tiba-tiba merasa tidak nyaman. Dia bilang kalau dia tidak ingin berada dalam posisi di mana dia bisa mendapatkan perhatian, dia merasakan terlalu banyak tekanan dan mulai panik.
Saya bertanya seberapa sering dia menginginkan berada dalam posisi seperti itu, ketika bersama suaminya. Dia bilang dia ingin mendapat lebih banyak kebebasan lagi. Saya bertanya sebanyak apa yang dia inginkan. Dia bilang - dua kali pulang ke rumah dalam setahun dan hanya tinggal beberapa hari saja.
ini bukanlah model hubungan yang saya inginkan, tapi saya mengakui kalau ini adalah model hubungannya.
Atas dasar itu, kami terus melanjutkan kegiatan ini. Dia ingin berada dalam posisi di mana dia menginginkan perhatian hanya dalam waktu yang sangat singkat, lalu berpindah ke posisi di mana dia menginginkan kekebasan. Dia bilang kalau dia merasa tidak nyaman ketika mengharapkan perhatian dari suaminya itu.
Jadi saya membalik situasinya, Saya berperan sebagai suaminya, dan menempatkan diri dalam posisi di mana saya menginginkan perhatian. Dan yang terjadi, dia semakin menjauh.
Dia merasakan banyak kebencian dalam dirinya. Dia merasa kalau suaminya selalu menginginkan sesuatu darinya, dan dia selalu memberikannya, tanpa mendapatkan balasan. Jadi dia mulai marah, dan segalanya menjadi jelas. Dia menjauh, suaminya terus-terusan meminta sesuatu darinya, dan dia terus menjauh karena hal itu.
Jadi saya menyarakan menambah satu posisi tangan lagi : yaitu memberi. Sangat jelas kalau dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pada orang lain. Tapi dalam hal ini, saya menganggap posisi memberi tersebut merupakan tanggung jawab suami, dan memintanya untuk berada dalam posisi di mana dia menginginkan perhatian.
Saat melakukan hal ini, dia mengutarakan keluhannya. Dia merasa kalau dia tidak pernah mendapatkan apa pun dari suaminya, dan bahwa selama bertahun-tahun, justru dia yang terus-terusan memberikan apa yang diinginkan suaminya itu.
Meskipun begitu, saya memintanya untuk memperhatikan keadaan saat ini, dan membiarkan dirinya merasakan pengalaman ketika dia mendapatkan sebuah pemberian, sambil mengekspresikan keluhannya. Dia setuju, dan merasa tergerak dengan hal ini. Tapi, beberapa saat kemudian dia merasa tidak nyaman - dia takut kalau apa yang ia dapatkan akan ia bayar kembali nantinya dalam bentuk pemberian.
Aspek masalah yang lebih dalam mulai terlihat.
Jadi saya menyarankan sebuah alternatif penyelesaian. Saya akan memberikan sesuatu padanya, dia akan menerimanya, lalu saat dia merasa tidak nyaman, dia bisa bertukar tempat dengan saya. Dia bisa mengembalikan pemberian saya, agar merasa lega dan terlepas dari apa yang dianggapnya sebagai 'hutang', dan saya akan menerimanya tapi hanya jika dia merasa nyaman.
Pengalaman baru seperti itu datang melalui eksperimen Gestalt, tapi itu bukanlah solusi, pengalaman tersebut akan membuka pandangan seseorang, dan memberikan referensi baru padanya untuk melihat kemungkinan yang bisa terjadi. Pengalaman tersebut juga bisa menjadi penyembuh, ketika lingkungan tidak dapat membantu anda.
Proses ini berawal dari pengamatan terhadap konteks masalah. Saat konteks masalah sudah jelas, eksperimennya bisa dimulai. Untuk melakukannya, sang pasien(Tracy) harus menganggap bahwa semua ini tidaklah direncanakan, tapi menganggapnya sebagai irama yang akan menenangkan dirinya.
Saya melibatkan diri saya agar bisa mengetahui apa yang dia butuhkan, dan mendapatkan wawasan tentang pengalaman langsung darinya.
Ini juga berarti saya bisa memberi respon dengan cara yang baru. Saya memodifikasi eksperimennya untuk memasukkan ketiga posisi tangan tadi ke dalam proses penyelesaian masalah, sebagai bahan yang paling penting. Hal ini juga akan membuatnya bisa merasakan pengalaman di mana dia memberi sesuatu pada orang lain, tanpa mengharapkan balasan yang berlebihan.

© Lifeworks 2012

Contact: admin@learngestalt.com

Who is this blog for?

These case examples are for therapists, students and those working in the helping professions. The purpose is to show how the Gestalt approach works in practice, linking theory with clinical challenges.

Because this is aimed at a professional audience, the blog is available by subscription. Please enter your email address to receive free blog updates every time a new entry is added.

Gestalt therapy sessions

For personal therapy with me: www.qualityonlinetherapy.com

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

© Lifeworks 2012

Contact: admin@learngestalt.com

Bahasa:

HOME

Informed Consent & Rates

Gestalt Therapy Defined

PAYMENTS

OTHER STUFF

Links

Book:Advice for Men about Women

BLOGS

English

Bahasa

Čeština

Deutsch

Español

Français

Greek ελληνικά

Hindi हिंदी

Magyar

Melayu

Italiano

Korean한국의

Polski

Português

Română

Russian Русский

Serbian српски

Chinese 中文

Japanese 日本語

Arabic العربية

English Bahasa České Deutsch Español Filipino Français ελληνικά हिंदी Magyar Melayu Italiano 한국의 Polski Português Română Русский српски 中文 日本語 العربية

If you are interested in following my travels/adventures in the course of my teaching work around the world, feel free to follow my Facebook Page!

Can you translate into Bahasa? I am looking for volunteers who would like to continue to make this translation available. Please contact me if you are interested.

vinaysmile

I publish this blog twice a week. It is translated into multiple languages. You are welcome to subscribe

logosm1

Interested in Gestalt Therapy training?

Contact Us

Links

Career Decision Coaching

Here

and here

Lifeworks

Gestalt training and much more

http://www.depth.net.au

For Men

Here is a dedicated site for my book Understanding the Woman in Your Life

http://www.manlovesawoman.com

The Unvirtues

A site dedicated to this novel approach to the dynamics of self interest in relationship

http://www.unvirtues.com

Learn Gestalt

A site with Gestalt training professional development videos, available for CE points

http://www.learngestalt.com

We help people live more authentically

Want more? See the Archives column here

Gestalt therapy demonstration sessions

Touching pain and anger: https://youtu.be/3r-lsBhfzqY (40m)

Permission to feel: https://youtu.be/2rSNpLBAqj0 (54m)

Marriage after 50: https://youtu.be/JRb1mhmtIVQ (1h 17m)

Serafina - Angel wings: https://youtu.be/iY_FeviFRGQ (45m)

Barb Wire Tattoo: https://youtu.be/WlA9Xfgv6NM (37m)

A natural empath; vibrating with joy: https://youtu.be/tZCHRUrjJ7Y (39m)

Dealing with a metal spider: https://youtu.be/3Z9905IhYBA (51m)

Interactive group: https://youtu.be/G0DVb81X2tY (1h 57m)