lifeworksgestaltlogobase

About Me

Foto saya

I teach and practice Gestalt therapy, Career decision coaching, and Family Constellations work. As well as Australia, I teach workshops and training in China, Japan, Korea, the USA & Mexico. I am author of Understanding The Woman In Your Life, a book of advice for men about relationships with women. In my work as director of Lifeworks I provide therapy,  training and supervision. I am a Phd candidate, studying the interpersonal dynamics of power, and am currently director of an MA in Spiritual Psychology for Ryokan College, an accredited online institution based in LA.

Rabu, 24 Desember 2014

Case #39 - Seorang penjual bunga yang kuat

Ketika saya meminta seorang sukarelawan, Fran mengangkat tangan. Saya sudah memperhatikan dia sebelumnya, karena dia adalah orang yang pertama kali bertanya.
Dari pada bertanya padanya, saya memulai dengan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan yang sudah saya bangun bersama dengannya - hal-hal yang saya ketahui, dan kemudian respon saya terhadap aspek-aspek tersebut berdasarkan pengalaman saya tentang dirinya.
Dia bilang dia sering menjadi orang pertama yang mengajukan diri, dan saya bilang kalau saya juga begitu. Hal ini segera menciptakan suatu dasar yang menghubungkan kami. Saya bertanya pekerjaan apa yang ditekuninya - dia bilang penjual bunga, tapi dia bilang dia ingin membuka toko bunga miliknya sendiri, dan dia sedang berusaha mewujudkannya. Saya bisa melihat bahwa dia adalah seorang wanita muda yang penuh percaya diri, dan saya bilang padanya ketika saya mendengar rencananya itu, saya percaya dia bisa.
Sekali lagi, ini meletakkan sebuah dasar hubungan, dan menerima apa yang akan muncul nantinya, dalam hal proses.
Saya bertanya tentang bunga yang paling disukainya. Dia bilang bunga matahari. Saya mengaitkan bagaimana saya menyukai bunga tersebut, dan apa yang saya suka dari bunga tersebut. Dia kemudian bilang kalau dia menyukai banyak hal dari bunga tersebut - bunga tersebut terlihat ceria, bercahaya, kuat, tinggi...
Dia melakukan penekanan pada kata 'kuat', jadi saya bertanya bagaimana dia bisa merasa kalau dirinya itu kuat. Dia menjelaskan bahwa dia memang kuat, dan dia senang dengan hal itu, meskipun dia merasa bahwa ketika dia sedang marah dia bisa bersikap destruktif.
Jadi saya mengajaknya untuk melakukan 'gulat terapi', di mana kami berhadapan satu sama lain, dan saling mendorong dengan menggunakan tangan. Ini menyenangkan, dan membuatnya merasakan keinginannya untuk menyerang secara penuh dan aman, menikmati permainan dan mampu melakukan kontak secara penuh. Eksperimen ini juga menunjukkan padanya bahwa amarah dalam dirinya dan keinginannya untuk menyerang bisa saja menjadi hal positif, tidak selalu negatif. Hal ini menciptakan lebih banyak dasar lagi di antara kami.
Saya menunjukkan bahwa wanita yang kuat tidak selalu diapresiasi oleh lingkungan sosial, penamaan sejumlah faktor kontekstual yang potensial adalah untuk melihat bagaimana hal itu dipandang olehnya. Kadang dia berkata kalau dia menganggap dirinya terlalu kuat, dan membuat orang lain kewalahan. Saya meminta contoh, dan dia mengatakan pernah berteriak keras pada seorang supir taksi. Saya bisa mengerti reaksinya, dan menunjukkan kalau mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Tapi, dia bilang dia merasa tidak senang ketika kehilangan kontrol.
Jadi saya bertanya tentang konteks dirinya, keluarganya, dan siapa orang yang kehilangan kontrol di dalam keluarganya. Dia bilang bahwa ayahnya sering menunjukkan emosi yang kuat ketika dia sedang beranjak dewasa. Tapi daripada takut pada hal tersebut, dia menjadi seperti dirinya yang sekarang...dan begitulah dia tidak suka jika dia kehilangan kontrol emosinya, di mana itu memang beralasan sama seperti kasus dengan supir taksi tadi.
Saya bisa mengerti hal tersebut, dan mengatakan bahwa sekarang dia sudah dewasa, mungkin dia bisa memilih apa saja sifat ayahnya yang ingin dicontoh olehnya, dan yang tidak ingin dicontoh olehnya. Jadi saya menaruh kursi di depannya untuk merepresentasikan ayahnya, dan memintanya untuk 'berbicara secara langsung dengan ayahnya' tentang hal ini, membantunya merangkai ucapan yang akan memperjelas apa yang dia hargai dan apa yang ingin dipertahankan, dan apa yang ingin dia hilangkan, sehingga ia tidak berakhir seperti ayahnya.
Dia merasa lega setelah melakukan ini semua, dan lebih merasa nyaman dengan keinginannya untuk menyerang sebagai sebuah kekuatan yang membuatnya bisa memilih, daripada sesuatu yang dirasa buruk olehnya, atau ditentang olehnya.
Seperti inilah bentuk 'penyatuan' yang kami maksud, dan terjadi tidak hanya secara kognitif dalam hal pengetahuan, tapi juga secara somatik, sehingga benar-benar bisa disebut sebagai terapi berbasis tubuh.








Senin, 15 Desember 2014

Case #38 - Seorang wanita yang gagal

Apa yang menjadi kekhawatiran Jemma adalah masalah kegagalan. Dia selalu gagal dalam melakukan segala hal - mengalami 5 kali kecelakaan kerja ketika bekerja di sebuah perusahaan, melakukan kesalahan perhitungan, yang terjadi terus-menerus, dan itu membuatnya merasa seperti seseorang yang gagal.
Ketika dia menceritakan masalah ini, saya agak berhati-hati. Dia menceritakan banyak cerita, yang terkait satu sama lain. Dia adalah orang yang cengeng, mudah roboh secara mental, dan saya sadar bahwa saya telah bersama dengannya selama satu jam namun tidak mendapatkan kemajuan yang berarti berkaitan dengan masalahnya. Dia juga menceritakan masalah yang dialaminya dengan orang tuanya, di mana ia merasa sangat marah pada mereka karena ditinggalkan, bahkan menaruh curiga pada ayahnya dan juga pada tujuan ayahnya. Dia sangat putus asa dan benar-benar butuh bantuan, dan itu membuat saya merasa tidak nyaman. Saya bereaksi dengan berniat menarik diri.
Jadi saya tahu bahwa saya harus masuk tepat pada inti masalah, termasuk membuat diri saya terlibat di dalamnya. Saya bilang - mari hadapi kegagalan itu; hal yang sedang terjadi saat ini adalah - anda telah gagal ketika bersama dengan saya - gaya yang anda tunjukkan mempengaruhi saya. Dia mengangguk - dia bisa menyadari bahwa saya akan bereaksi seperti itu, dan tentu saja hal seperti ini tidak asing baginya.
Langkah pertama ketika berhadapan dengan orang yang terjebak pada sebuah jalan yang membawa dampak buruk baginya adalah membawa sepenuhnya hal yang menjadi masalah baginya (dalam hal ini masalah kegagalan) ke dalam situasi saat ini, daripada hanya mendengarkan cerita tentang 'kegagalan' tersebut. Dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan melihat bagaimana hal tersebut memberikan dampak dalam hubungan.
Lalu saya memintanya untuk bermain sebuah permainan sederhana dengan saya. Saya ingin dia menerka bagaimana saya bereaksi terhadap kegagalannya ketika bersama dengan saya - setiap dua terkaan saya akan memberitahunya apakah dia berada di jalan yang benar atau tidak.
Dia menerka kalau saya akan berusaha untuk terus bersabar. Saya bilang tidak. Dia menerka bahwa saya merasa kasihan padanya. Saya bilang tidak.
Kemudian saya mengatakan - rasanya saya menyakitimu.
Lalu saya memintanya untuk menerka seperti apa rasa sakit tersebut bagi saya. Dia menerka kalau saya menahan rasa sakit itu. Saya bilang, anda sedikit benar. Dia  menerka lagi kalau saya merasakan rasa sakit tersebut di bagian perut dan dada.
Lalu saya mengatakan padanya bahwa faktanya saya justru marah padanya, dan bahwa saya merasakan hal tersebut di dada saya sebagai bentuk dorongan yang berasal dari dalam diri saya sendiri.
Saya memintanya untuk mengikuti eksperimen ini karena saya ingin membuatnya berhenti mengasihani diri sendiri dan terlepas dari bayang-bayang kegagalan yang terus dia pikirkan. Saya ingin dia melihat kegagalan itu sebagai sebuah pengalaman, dan bahwa dia bukanlah satu-satunya orang yang menderita. Jujur saja saya juga takut akan hal tersebut. Saya juga memintanya melakukan ini, karena dia selalu curiga pada ayahnya, dan akan lebih baik jika dia berlatih 'menerka' , dan mengambil kesempatan untuk berubah ke arah yang lebih baik, daripada mengisolasi diri.
Selanjutnya saya memintanya bertukar posisi. Saya menjadi dia, dan sebaliknya. Jadi, saya merasa sedih, kesal, gagal, dan dia adalah orang yang marah akan hal itu.
Dia mulai sadar setelah bertukar peran 'saya merasa seperti orang tua saya - yang mengajari saya, berteriak, mengkritik, merendahkan saya, dan memaksa saya melakukan sesuatu'.
Hal itu berguna karena sekali lagi, itu membuatnya bisa keluar dari identitas polaritas, dan membuatnya merasakan pengalaman yang lebih banyak tentang apa yang sedang terjadi.
Lalu saya memberinya sebuah metafora - misalnya dia yang merekrut saya untuk melakukan pekerjaan yaitu marah padanya, dan bahwa hal tersebut akan terjadi kurang dari semenit. Saya juga menunjukkan padanya bahwa pada tingkat tertentu saya setuju untuk bermain dengan sisi lain dari hal ini, dan di situlah bagian terburuk dari diri saya akan ikut serta.
Saya menjelaskan kalau ini adalah permainan yang dimainkan oleh dua orang. Dia bilang - sebenarnya, saat dia berperan sebagai orang yang marah pada saya tadi, dia jadi teringat pada tekanan yang sama yang datang dari kakek dan neneknya.
Jadi, seperti inilah dunianya berjalan.
Saya memberikan metafora lain : sebuah naskah, dan pemain yang siap sedia. Dia memproduksi ulang naskah tersebut di setiap bagian dari kehidupannya. Dia setuju. Ini akan menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, daripada jika kita hanya menganggap hal ini sebagai masalah pribadinya saja, dan mengarah pada sifat kompulsif dan tak terelakkan yang terus berulang yang ada pada dirinya, dan juga dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Lalu saya memintanya memilih permainan apa saja yang diketahuinya, asalkan dalam permainan itu terdapat karakter yang serupa dengan dirinya. Dia mendeskripsikan sebuah drama yang di dalamnya terdapat karakter yang bisa mempengaruhi seluruh proses yang sedang coba kami selesaikan.
Lalu saya meminta contoh lain darinya - misalnya dari cerita film atau teater, yang memiliki naskah berbeda. Di sini saya ingin melihat lebih luas ke sumber lain yang ada. Dia memilih cerita Harry Potter, dan ketika saya bertanya karakter mana yang ingin dia perankan, dia bilang Harry.
Jadi saya memintanya melihat saya dengan sudut pandang Harry. Ini karena cara yang dia lakukan pertama kali dalam menyusun naskah adalah dengan menggunakan matanya - dia melihatku dengan pandangan tertentu.
Dia mencoba eksperimen ini, dan seiring dengan terkuaknya sikap Harry Potter di dalam film -  kenyataan di mana karakter tersebut tidak bisa mati dan sebagainya, dia mulai merasakan sesuatu yang lebih kuat pada dirinya.
Dia merasa ada perubahan pada identitas dirinya, dan pada akhirnya, saya merasakan perbedaan dirinya sebelum dan setelah mengikuti eksperimen ini.
Untuk menyelesaikan masalah ini saya harus terus bersamanya, dan bersikap jujur. Saya bekerja dengan apa yang disebut hubungan, menggunakan berbagai eksperimen, dan yang terakhir kali saya gunakan adalah 'perubahan dasar'... di mana hal tersebut membutuhkan segala sesuatu yang telah terjadi sebelumnya.


Senin, 08 Desember 2014

Case #37 - Tombak yang menyakiti, dan tombak pelindung

Saya mengira Celia berumur sekitar 30 tahun, tapi ternyata dia berumur 51, dan memiliki beberapa anak. Hebatnya, meskipun dia memiliki kehidupan yang sulit, dia tetap terlihat tenang - dan itulah yang membuatnya terlihat muda. Hal-hal tersebut tidak perlu saya telusuri lebih lanjut, meskipun nanti itu akan menjadi hal yang perlu diperhatikan ke depannya. Kesan pertama selalu menjadi bagian yang penting, bahkan pada klien yang sudah familiar sekalipun agar bisa 'menemukan sudut pandang baru' untuk mengetahui kesenjangan atau mengetahui hal yang relevan dengan terapi.
Masalah yang dialaminya adalah dia takut menekuni profesi yang sudah dilatihnya selama 10 tahun terakhir. Dia ingin menjadi seorang pekerja sosial, dan sekarang anaknya telah meninggalkan rumah, ini adalah tujuan lain yang ingin dicapainya.
Daripada menggali rasa percaya dirinya atau mencari tahu rasa takutnya, saya lebih ingin mencari tahu situasi yang dialaminya - dalam hal ini dukungan yang diberikan lingkungannya untuk melakukan pekerjaan sosial. Dia mendapatkan dukungan dari sekelompok pekerja sosial, jadi itu bukanlah masalah sekarang.
Tapi, suaminya bilang kalau dia ingin bercerai jika Celia tetap meneruskan dan menekuni pekerjaan tersebut. Ini merupakan reaksi yang cukup kuat, tapi tidak sepenuhnya mengejutkan mengingat budaya patriarki (sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang memiliki otoritas tertinggi) berlaku dalam sesi ini.
Tapi, ketika saya bertanya lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa dia mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama puluhan tahun.
Itu agak aneh bagi saya bahwa selama 10 tahun belajar dan melakukan terapi yang berhubungan dengan keinginannya melakukan pekerjaan sosial, semua itu sama sekali tidak membuahkan hasil, atau bahkan orang yang mengajarnya entah kenapa tidak merasa bersalah.
Dalam terapi, sangat penting untuk fokus pada situasi, bukan hanya perasaan saja, terutama jika situasi tersebut tidak bersahabat. Hal ini perlu menjadi fokus dalam terapi.
Jadi saya hanya ingin fokus pada inti masalah - ketakutannya yang bisa dimaklumi. Dia bilang kekerasan yang dialaminya dalam rumah tangga  telah berhenti akhir-akhir ini.
Saya memberitahu perasaan saya ketika saya duduk bersama dengannya - bersikap terbuka padanya, merasa kalau kami berdua saling terhubung untuk membahas masalah secara serius,  merasa ingin mendukungnya, tapi saya juga bersikap sangat hati-hati dan ingin melanjutkan terapi ini dengan cara yang patut dihargai.
Saya menunjukkan kalau ketakutan yang dirasakannya hampir seperti 'seseorang yang merupakan bagian dari keluarga'. Dia setuju dengan hal itu. Saya memintanya memberikan identitas orang yang ditakutinya - dia mengatakan seseorang dengan baju hitam, mata besar, tersenyum dan memegang tombak. Dia mendeskripsikan orang tersebut dengan kata 'seram'.
Saya memintanya menjelaskan lebih detail - seperti apa baju yang dipakai orang itu. Saya ingin benar-benar memahami hubungan antara dirinya dan rasa takut yang dialaminya. Lalu saya mengajaknya berpartisipasi dalam sebuah eksperimen Gestalt. 'menjadi rasa takut tersebut' - untuk menunjukkan seperti apa rasa takut tersebut, dengan tombak dan mata besar yang dia maksud.
Dia melakukan apa yang saya minta ('menjadi rasa takut tersebut'). Terkadang melakukan eksperimen seperti ini bersama dengan klien bisa berdampak baik.
Lalu saya memintanya untuk duduk lagi - Saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu pada satu bagian saja. Mendeskripsikan dan menjadi rasa takut itu sendiri bisa berarti banyak hal.
Dia bilang kalau dia merasa bahwa saya telah memberikan banyak hal padanya selama proses ini, dan dia merasa segan untuk menerima lebih banyak lagi - seolah dia ingin membalas apa yang telah saya berikan. Dia menjelaskan bawah dia dididik untuk 'mengapresiasi' laki-laki, dan meskipun dia berusaha menolaknya karena dia adalah perempuan, hal itu tetap menjadi bagian dari kondisi hidupnya.
Jadi saya berangkat dengan situasi ini, dan kemudian berhenti untuk berpikir. Saya bilang, 'baiklah, apapun yang akan anda berikan, saya akan menerimanya'. Kami duduk bersama sambil terdiam, dan kemudian dia bilang kalau dia ingin berterima kasih atas apa yang telah saya lakukan sampai saat ini.
Setelah mengatakan hal tersebut, dia kembali merasa lega bersama saya, siap untuk melanjutkan proses ini. Sangat penting untuk mendengarkan secara jelas tentang apa yang dialami oleh klien, termasuk setiap momen yang dialaminya, dan turut merasakan momen-momen tersebut.
Saya bertanya padanya di mana rasa takut itu sekarang - dia bilang kalau itu berada di dalam dirinya. Dia bilang itu seperti tombak yang menusuk otaknya dan menyakitinya.
Saya mengubah cara untuk berhubungan secara langsung dengannya. Saya mengatakan padanya kalau saya merasa sangat sedih melihatnya merasakan sakit. Saya ingin 'menyelamatkannya', melindunginya, tapi saya tidak tahu caranya.
Dia sangat tersentuh, dan kami duduk bersama sambil terdiam sejenak. Ini adalah saat di mana terjadi pergeseran kunci permasalahan - seseorang yang peduli, yang bisa bersamanya, melindunginya, namun tidak terburu-buru untuk memperbaiki hal-hal yang terkait dengan masalah yang dihadapinya.
Ini adalah sebuah momen 'Aku-Anda' (I-Thou), di mana dua individu manusia terhubung secara penuh. Saya adalah ahli terapi dan dia adalah klien, tapi selain itu, kami berdua juga manusia, yang duduk berhadapan satu sama lain, dan mendalami rasa sakit yang dialaminya. Saya berusaha sebaik mungkin untuk menghilangkan rasa sakit tersebut - tidak hanya melakukan percobaan,menunjukkan sosok rasa takut tersebut, tapi faktanya, rasa takut yang dialami seseorang selama puluhan tahun sangat erat kaitannya dengan kekerasan.
Dalam hal ini,  kami berdua bersikap terbuka. Saya benar-benar merasa tersentuh, begitu juga dia. Kami berdua mengungkapkan hal ini.
Lalu saya bilang - baiklah saya juga punya tombak, ini adalah tombak untuk melindungi. Saya memintanya untuk 'melibatkan saya', bersama dengan tombak saya, untuk menghadapi sosok rasa takut yang ada di dalam hatinya.
Dia mampu melakukan hal ini dengan mudah, dan kemudian menangis. Dia merasa aman dan diperhatikan.
Ini disebut dengan 'menjadikan diri sebagai objek' - 'melibatkan saya', berarti dia memiliki sosok di dalam dirinya yang akan membantunya, karena pengalaman masa lalu terus-menerus menekannya, dan dia diharapkan bisa 'mengapresiasi' laki-laki di dalam hidupnya.
Meskipun tidak banyak hal yang terjadi di selama terapi, dampak yang diberikan terapi tersebut sangatlah besar. Pada bagian akhir saya bertanya di mana posisi rasa takutnya terkait dengan keinginannya untuk menekuni profesinya.  Dia bilang, dia tidak merasa terintimidasi lagi. Saya bertanya - meskipun anda harus bercerai dengan suami anda? dia bilang, ya.
Sekarang, ini hanyalah salah satu bagian dari pekerjaan yang perlu dilakukan dalam terapi berkaitan dengan hubungan, menghadapi masalah tersebut setelah kekerasan yang berlangsung cukup lama. Saya ingin tetap memperhatikan hal ini, karena bisa saja kekerasan kembali terjadi, dan sebagai seorang profesional, dan juga orang yang peduli, saya ingin memastikan bahwa hal buruk seperti itu tidak terjadi lagi.



© Lifeworks 2012

Contact: admin@learngestalt.com

Who is this blog for?

These case examples are for therapists, students and those working in the helping professions. The purpose is to show how the Gestalt approach works in practice, linking theory with clinical challenges.

Because this is aimed at a professional audience, the blog is available by subscription. Please enter your email address to receive free blog updates every time a new entry is added.

Gestalt therapy sessions

For personal therapy with me: www.qualityonlinetherapy.com

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

© Lifeworks 2012

Contact: admin@learngestalt.com

Bahasa:

HOME

Informed Consent & Rates

Gestalt Therapy Defined

PAYMENTS

OTHER STUFF

Links

Book:Advice for Men about Women

BLOGS

English

Bahasa

Čeština

Deutsch

Español

Français

Greek ελληνικά

Hindi हिंदी

Magyar

Melayu

Italiano

Korean한국의

Polski

Português

Română

Russian Русский

Serbian српски

Chinese 中文

Japanese 日本語

Arabic العربية

English Bahasa České Deutsch Español Filipino Français ελληνικά हिंदी Magyar Melayu Italiano 한국의 Polski Português Română Русский српски 中文 日本語 العربية

If you are interested in following my travels/adventures in the course of my teaching work around the world, feel free to follow my Facebook Page!

Can you translate into Bahasa? I am looking for volunteers who would like to continue to make this translation available. Please contact me if you are interested.

vinaysmile

I publish this blog twice a week. It is translated into multiple languages. You are welcome to subscribe

logosm1

Interested in Gestalt Therapy training?

Contact Us

Links

Career Decision Coaching

Here

and here

Lifeworks

Gestalt training and much more

http://www.depth.net.au

For Men

Here is a dedicated site for my book Understanding the Woman in Your Life

http://www.manlovesawoman.com

The Unvirtues

A site dedicated to this novel approach to the dynamics of self interest in relationship

http://www.unvirtues.com

Learn Gestalt

A site with Gestalt training professional development videos, available for CE points

http://www.learngestalt.com

We help people live more authentically

Want more? See the Archives column here

Gestalt therapy demonstration sessions

Touching pain and anger: https://youtu.be/3r-lsBhfzqY (40m)

Permission to feel: https://youtu.be/2rSNpLBAqj0 (54m)

Marriage after 50: https://youtu.be/JRb1mhmtIVQ (1h 17m)

Serafina - Angel wings: https://youtu.be/iY_FeviFRGQ (45m)

Barb Wire Tattoo: https://youtu.be/WlA9Xfgv6NM (37m)

A natural empath; vibrating with joy: https://youtu.be/tZCHRUrjJ7Y (39m)

Dealing with a metal spider: https://youtu.be/3Z9905IhYBA (51m)

Interactive group: https://youtu.be/G0DVb81X2tY (1h 57m)